logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 SEMARANG
Line

Ketika Anak Autis Belajar Meronce

MATA Adit (15) terlihat jelalatan kesana-kemari. Baru sebentar memandang potongan kertas yang berada di atas meja. Selang beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke arah lain. Dia tampak asyik dengan dunianya sendiri. Berkali-kali terapis dari ''Pusat Terapi Autisme Semarang'' Atik mengingatkan bahwa tugas meronce potongan-potongan kertas belum juga kelar.

''Adit, kertas yang warna hijau mana? Setelah biru, giliran warna apa yang ditempel?'' bimbing Atik. Meski diingatkan berkali-kali, Adit nampak abai. Dia seolah tak mendengar apa yang diajarkan.

Dalam ruang kelas yang berukuran sedang itu, Adit tak sendiri. Masih ada anak-anak lain yang juga mengalami kondisi sama. Satu anak ditangani seorang terapis.

Ya, dia hanyalah salah satu anak yang menderita autis. Belum ada data akurat mengenai jumlah anak yang mengalami gangguan perkembangan semacam itu di Indonesia. Ada kabar, satu dari seratus kelahiran berpotensi menjadi anak autis. Namun data ini bisa dibantah. Sekretaris Yayasan Autisma Semarang Ir Nurini MT mengungkapkan, tidak ada data yang pasti mengenai jumlah anak penyandang gangguan perkembangan komunikasi, sosialisasi, dan imajinasi itu.

''Pada 1970-1980, anak penyandang autisme sangat jarang. Namun sepuluh tahun berikutnya, ditemukan lima anak. Kemudian, meningkat menjadi 50 pasien pada 1990-2000,'' ujar dia di Pusat Terapi Autisme Semarang, Jl Jatisari IV No 5, Tembalang, Rabu (1/3).

Kenapa bisa begitu? Nurini memperkirakan, polusi udara menjadi salah satu penyebab anak menderita autis. Selain itu, makanan yang mengandung bahan pengawet dan logam berat seperti aluminium, timbal, dan air raksa yang dikonsumsi saat ibu sedang hamil atau ketika menyusui.

Di pusat terapi Jl Jatisari tersebut, ada sepuluh anak berumur 3-14 tahun yang ditangani instruktur untuk dilatih kepatuhan, kemandirian, terapi komunikasi, okupasi, perilaku, dan brain-gym. Untuk mengembalikan anak-anak yang ''telah menemukan dunianya sendiri'' semacam itu, beragam alat peraga dan cara dilakukan.

Diangap Gila

Kasubdin Pendidikan Luar Biasa Dinas P dan K Jateng Drs Sutikno MSi mengatakan, di Jateng terdapat beberapa lembaga terapi untuk anak-anak autis. Namun, hanya beberapa yang mengantongi izin Dinas P dan K. Pihaknya pun mengakui di beberapa daerah pendidikan untuk para penderita autis ini kurang mendapat respons.

''Kami telah melakukan workshop, sosialisasi, dan pengertian tentang autisme. Namun respons masyarakat minim. Di beberapa wilayah, anak penyandang autis dianggap gila, hilang ingatan atau IQ rendah,'' imbuh dia.

Baik Sutikno maupun Nurini menegaskan, autis bukan penyakit gila atau anak ber-IQ rendah. Sebab tak jarang, anak autis memiliki intelegensi tinggi, sama dengan anak umum lainnya. Bahkan, tak sedikit mereka yang telah ''lulus'' terapi bisa berprestasi di sekolah umum.

''Di tempat kami, sudah dua anak yang bersekolah di SD seperti anak-anak lain. Bahkan, prestasinya mampu mengungguli anak kebanyakan,'' tutur Nurini.

Sebenarnya, Adit dan anak autis lain tak ingin diperlakukan istimewa. Melalui terapi kesabaran, motorik, dan sensorik dengan meronce kertas warna-warni secara telaten, suatu saat mereka bisa hidup mandiri. (Widodo Prasetyo-44m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA