| Senin, 06 Maret 2006 | INTERNASIONAL |
China Bertekad Rebut Kembali TaiwanBEIJING - Perdana Menteri Wen Jiabao menegaskan komitmen China untuk merebut kembali Taiwan. Penegasan itu dia ungkapkan dalam pidatonya di sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional (parlemen) China, Minggu kemarin. Sekitar 3.000 anggota parlemen China menyambut penegasan komitmen itu dengan tepuk tangan bergemuruh. Dalam sidang di Balai Rakyat Agung itu, Wen membacakan naskah pidato setebal 35 halaman. Hanya bagian mengenai isu Taiwan itulah yang mendapat sambutan tepuk tangan dari anggota parlemen. Wen juga mengingatkan pilihan-pilihan yang sulit dan berbahaya berkaitan dengan isu Taiwan. Taiwan berpisah dari China pada akhir Perang Saudara 1949. Namun, Beijing tetap menganggap Taipei sebagai bagian wilayahnya. ''Sebagian konflik lama belum dapat diselesaikan secara mendasar, dan masalah-masalah baru yang bermunculan belakangan ini tidak dapat diabaikan,'' kata PM China tersebut. Wen tidak membuat pernyataan terobosan mengenai kebijakan luar negeri dan pertahanan. Dia juga tidak mengancam akan mengerahkan kekuatan militer terhadap Taiwan. Sindir Presiden Taiwan Namun dia melontarkan sindiran yang tampaknya diarahkan kepada Presiden Taiwan Chen Shui-bian. Belum lama ini, Chen membuat geram Beijing dengan membubarkan dewan penasihat penyatuan Taiwan-China. ''Sudah menjadi kehendak rakyat untuk menjalin hubungan lintas Selat Taiwan yang mengarah pada perdamaian, stabilitas, dan saling menguntungkan,'' kata Wen. ''Siapa pun yang berusaha merusak impian itu, dia pasti gagal.'' Ketegangan meruncing antara China dan Taiwan. Di tengah situasi tegang itu, China menetapkan anggarannya untuk pertahanan pada 2006 lebih besar 14,7 persen ketimbang tahun lalu. Menteri Keuangan Jin Renqing, dalam laporan kepada parlemen, mengatakan China akan memperkecil defisit anggarannya sampai sekitar 1,7 persen pada 2006. Beijing juga akan melanjutkan pemberian insentif fiskal yang dimulai sejak 1998. Dalam pidato itu, Wen juga menyampaikan tekad pemerintah untuk mempersempit kesenjangan antara daerah perkotaan yang makmur dan pedesaan yang tak sabar mengejar ketertinggalan. Dia menjanjikan kebijakan ekonomi yang akan menciptakan kesinambungan dan stabilitas, termasuk dalam hal kurs mata uang dan kebijakan moneter. Namun dia mengatakan, lebih banyak investasi harus dialirkan kepada petani dan kelompok-kelompok lain yang masih tertinggal untuk menjamin stabilitas dan pertumbuhan ekonomi China. PM China itu memuji kinerja ekonomi 2005. Namun dia menegaskan bahwa China harus mencurahkan lebih banyak perhatian pada kesetaraan dan stabilitas sosial, sehingga seluruh rakyat dapat menikmati buah reformasi dan pembangunan. Dia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat berisiko mengalami investasi dan produksi yang berlebihan serta kekeliruan manajemen. Dia mengatakan, ekspansi industri yang menyimpang dapat merusak kesehatan ekonomi jangka panjang China. ''Produksi yang berlebih berdampak sangat buruk pada harga barang dan membuat produk bertumpuk tak terpakai. Dampak lanjutannya, keuntungan bisnis menyusut, kerugian kian besar, dan risiko-risiko laten keuangan makin bertambah,'' kata dia.(rtr-ben-25) |