| Senin, 06 Maret 2006 | INTERNASIONAL |
Demo Anti-Thaksin Tetap BertahanBANGKOK - Sekitar 40 ribu demonstran Minggu kemarin bertekad akan tetap bertahan di jalan-jalan Bangkok sampai Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinwatra mundur. Para biksu dan biksuni Budha dari Laskar Dharma juga tetap setia berpartisipasi dalam unjuk rasa yang sudah berlangsung sepekan ini. Para demonstran berteriak-teriak ''Thaksin Enyah'' saat pawai mendekati Lapangan Sanam Laung dekat Istana Pemerintah. Pemrakarsa unjuk rasa mengerahkan puluhan ribu demonstran kendati Thaksin tetap tidak mau tunduk pada tekanan oleh ''aturan massa''. Thaksin berkilah, dia hanya mau mendengarkan pemilih legal. ''Perdana menteri korup,'' kata Lakhana Promchokewattana (27), seorang wanita pengusaha dari Provinsi Ratchaburi. ''Jika perdana menteri ini memang orang baik, mengapa sedemikian banyak orang dari berbagai lapisan berada di sini dan rela berpanas-panas untuk memprotes dia,'' kata dia. Lakhana mengenakan ikat kepala bertuliskan ''anti-Thaksinomics''. Pawai akbar ini digelar oleh Aliansi Rakyat untuk Demokrasi, sebuah koalisi kelompok-kelompok anti-Thaksin. Mereka digalang oleh eks mentor politik Thaksin, pensiunan jenderal Camlong Srimuang. Chamlong mengatakan, dia akan memimpin Laskar Dharma berpawai menuju Monumen Demokrasi dan berkemah di sana sampai esok pagi. ''Kami belum memutuskan apakah kami akan bergerak ke tempat lain,'' kata Chamlong. Tokoh kawakan ini pernah sukses memimpin revolusi people power menentang pemerintahan militer pada 1992. Ribuan polisi dikerahkan untuk menjaga ketat jalan-jalan di Bangkok. Polisi memeriksa tas-tas para pengunjuk rasa kalau-kalau mereka membawa senjata. Tidak kurang dari 500 personel antihuru-hara bersenjatakan pentungan dan tameng dikerahkan menjaga sekitar lapangan. ''Polisi sudah diperintah untuk tidak berkonfrontasi dengan demonstran atau menghentikan mereka, bahkan juga bila mereka berpawai menuju kediaman Perdana Menteri atau Istana Pemerintah,'' kata Kol Pol Pinij Maneerat kepada Reuters. Tak Menyerah Banyak demonstran membawa spanduk-spanduk mengecam Thaksin. Perdana menteri menggelar pemilu dipercepat 2 April mendatang untuk meredakan protes di kalangan kelas menengah Bangkok. Aliansi Rakyat Demokrasi mengecam keras keputusan menggelar pemilu itu. Tiga partai oposisi utama menyatakan akan memboikot pemilu. dengan atau tanpa boikot, Thaksin diperkirakan akan memenangi pemilu itu karena dukungan dari masyarakat pedesaan masih sangat kuat. ''Hitler-Sin'' - reinkarnasi untuk merampok negeri ini,'' demikian tulisan pada salah satu spanduk. Thaksin digambarkan sebagai Adolf Hitler dalam seragam Nazi dan berkumis pendek. Unjuk rasa anti-Thaksin memuncak sejak perdana menteri menjual saham prusahaan Shin Corp, raksasa telekomunikasi yang didirikan Thaksin, kepada perusahaan milik pemerintah Singapura Temasek akhir Januari lalu. Thaksin melawan demo-demo itu dengan menggelar pawai pendukungnya. Pada Sabtu lalu, ribuan pendukung Thaksin unjuk dukungan di Khon Kaen, Thailand timurlaut. Daerah ini merupakan basis kekuatan partai Thai Rak Thai pimpinan Thaksin. Perdana menteri yang selalu tampil bergaya CEO ini menyatakan tetap akan menggelar pemilu sesuai rencana. Dia juga menjanjikan lebih banyak dana untuk mengatasi kemiskinan di pedesaan. ''Setiap kali ada konflik seperti ini, perdana menteri selalu kalah,'' kata Thaksin di hadapan 20.000 pendukungnya. ''Namun hari ini, perdana menteri tidak akan menyerah karena hal itu akan menjadi preseden dengan membiarkan aturan jalanan berkuasa.'' (rtr-gn-25) |