| Senin, 06 Maret 2006 | EKONOMI |
Strategi Industri Belum SolidJAKARTA-Kadin Indonesia menilai pemerintah belum memiliki grand strategy (strategi besar) industri yang solid dan terpadu serta didukung semua departemen dan instansi terkait. "Belum," ujar Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat di Jakarta Minggu, menanggapi pertanyaan apakah pemerintah belum memiliki strategi besar pengembangan industri yang diharapkan dunia usaha. Menurut dia, yang ada sekarang strategi dan kebijakan masing-masing departemen yang memiliki agenda sendiri-sendiri dan tidak terpadu. Ia mencontohkan Departemen Perindustrian ingin mengembangkan industri pengolahan kakao, karenanya diusulkan penerapan pajak ekspor (PE). Namun Departemen Pertanian menolak dan menggenjot produk kakao untuk ekspor. "Karena itu harus ada strategi besar yang terintegrasi. Jadi misalnya mana yang mau dipajaki lima tahun lagi dan apakah industrinya betul-betul siap," katanya. Tidak Fokus Oleh karena itu, Hidayat menilai strategi besar harus dibuat Menko Perekonomian agar didukung departemen dan instansi terkait. Dalam strategi itu harus ada pemilihan komoditas dan industri unggulan beserta subsektornya, sehingga pemerintah bisa lebih fokus. Misalnya dalam memberi insentif perpajakan. "Yang diinginkan pemerintah sekarang tidak fokus," ujarnya. Dia mengakui sudah menyampaikan ke Menperin Fahmi Idris agar fokus pada industri unggulan yang dianggap bisa menjadi pemimpin pasar dunia. Kadin sendiri, melihat ada enam sektor yang bisa jadi unggulan, yaitu komponen otomotif, produk pertanian, perkebunan, kehutanan, tekstil, dan garmen. Akibat fokus strategi pemerintah belum jelas, dia menilai harmonisasi tarif yang diluncurkan pemerintah 1 Februari 2006 belum ideal. Padahal harmonisasi tarif harusnya cermin dari industri yang ingin dikembangkan. (ant-33) |