logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 EKONOMI
Line

200 Industri Berebut Pasar Farmasi

JAKARTA-Pasar farmasi Indonesia yang sangat kecil diperebutkan 200 industri farmasi, sedangkan pasar komoditi lain pemainnya tidak sampai 10 perusahaan. Demikian diungkapkan Sekjen GP Farmasi, M Syamsul Arifin, seusai berbicara dalam workshop bertema meningkatkan peran wartawan dalam sosialisasi kebijakan obat nasional yang digelar Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) kemarin.

Disebutkan, pasar farmasi Indonesia hanya mencapai Rp 22 triliun per tahun lebih kecil dibanding komoditi lain. Seperti mie instan yang mencapai Rp 36 triliun per tahun, rokok Rp 130 triliun, subsidi BBM Rp 90 triliun dan subsidi listrik Rp 30 triliun per tahun.

Selain nilainya yang masih kecil dibanding komoditi lain, pasar farmasi di tanah air juga menyimpan sedikitnya tiga permasalahan. Pertama, daya beli sebagian besar penduduk yang minim, sehingga sulit meningkatkan pasar farmasi.

''Minimnya daya beli itu memunculkan persoalan kedua, yaitu menimbulkan banyak persyaratan dan permasalahan yang akhirnya memerlukan biaya tinggi. Ketiga, regulasi yang sering berubah dan tidak adanya kepastian usaha .''

Meski demikian, lanjut Syamsul ada banyak hal untuk menyelesaikan berbagai persoalan itu. Salah satunya dibutuhkan regulasi yang konsisten dan bertanggung jawab, sehingga ada kepastian usaha farmasi di Indonesia.

Upaya ini, sambung dia mesti dilakukan mengingat pemerintah di negara mana pun, termasuk negara maju selalu memberikan subsidi kepada masyarakat yang tidak mampu melalui sistem pembiayaan atau asuransi. ''Tuntutan ini juga wajar, karena produk farmasi sangat terkait kemanusiaan yang berarti tidak hanya menyangkut keamanan dan efisiensi. Tetapi juga aspek ekonomi dan sosial secara seimbang,'' tuturnya.

Demi mewujudkan hal ini tegas dia, regulasi yang ada perlu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan regulasi yang efektif. Dengan demikian usaha farmasi dapat berkembang dan bersaing dengan usaha sejenis di tingkat regional maupun global.

Di tempat sama, Richard Pandjaitan, staf ahli Menkes bidang farmasi mengungkapkan, obat tersedia di Indonesia yang diproduksi saat ini mencapai 12.000 item. Obat itu diproduksi 4 BUMN farmasi, 33 industri PMA dan 164 industri swasta masional dengan price factor. Sedangkan pelaksanaan distribusi ditangani 2.250 pedagang besar farmasi dengan mata rantai ritel Apotek dan Toko Obat yang masing-masing berjumlah 6.000 tersebar di seluruh tanah air. (bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA