logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 BANYUMAS
Line

Gitar Aries Laris di Bandung

PERTANIAN dan musik memang dua dunia yang berbeda. Namun, bagi Budi Yatmaka (42), warga RT 4 RW 7, Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Cilacap, kedua dunia itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Sebab, bagi dia, pertanian dan musik merupakan sumber penghasilan. Dari dua kegiatan itulah dia menghidupi istrinya, Tati Maryati (33), dan ketiga anaknya, yaitu, Retno Wulansari (Kelas 1 SMP), Fresty Lintang Permatasari (Kelas 3 SD), dan Indriyani Suryaningsih (4 tahun).

Budi Yatmaka sehari-hari bekerja di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap. Dia ditempatkan sebagai petugas penyuluh lapangan (PPL) di wilayah Patimuan.

Rekrut Tenaga Kerja

Sebagai PPL, dia tidak hanya menguasai bidang pertanian semata. Dia juga mampu membuka usaha di rumah. Usaha yang ditekuni jauh dari dunia pertanian, yaitu membuat gitar.

Dia membuat gitar dengan berbagai tipe, yaitu, tipe FC 1, cuk lele, yunior, FM, FWI, gibson, FG, Erwaco, gibson 24 fret/grip, gibson tanduk, dan FG 202. Bagi yang suka bermain gitar pasti mengenal tipe-tipe tersebut.

''Semua gitar buatan saya dijual dengan merek Aries. Pemasarannya sudah sampai ke Bandung, Garut, dan Cianjur. Jadi, sudah banyak toko alat musik di Bandung dan Cianjur yang memesan gitar kepada saya, karena di sana laku keras. Bahkan, sekarang saya sedang menggarap pesanan Toko Alegro Bandung,'' tutur Budi, kemarin.

Di toko, lanjut dia, gitar Aries dijual antara Rp 90.000 sampai Rp 350.000. Tergantung jenisnya. Namun, kalau ada warga yang memesan langsung secara perorangan, dengan cara datang ke Cinyawang, tentu harganya lebih miring.

Untuk membantu usahanya, dia merekrut sembilan tenaga kerja. Dengan sembilan pekerja, dalam waktu tiga minggu mampu membuat 30 gitar dari berbagai jenis. Jadi, rata-rata untuk membuat satu gitar membutuhkan waktu 2,5 hari.

Bahan baku seperti kayu mahoni dan kayu sonokeling didatangkan dari daerah sekitar. Kayu mahoni digunakan untuk tangkai gitar. Untuk bodi gitar, dibuat dari papan triplek.

''Untuk mengembangkan usaha ini, saya butuh mitra kerja. Terus terang, sampai sekarang saya belum punya mitra. Paling tidak, mitra penyedia bahan baku. Padahal, pesanan terus berdatangan. Akhirnya, saya terpaksa membatasi order yang masuk. Mengingat, perputaran modal saya cuma Rp 17 juta. Seandainya punya mitra, saya yakin usaha ini lebih berkembang,'' katanya.

Kualitas gitar buatan dia cukup baik. Hal itu terlihat dari hasil finishing yang ditangani tenaga berpengalaman. Semua karyawan warga Cinyawang. Mereka punya pengalaman bekerja di perusahaan gitar ternama.

''Meski bukan gitar elektrik, tapi finishing-nya seperti gitar elektrik. Sebab, semua gitar Aries dimelamin dengan Impra, sehingga hasilnya sangat halus. Jadi, tidak hanya sekadar dicat,'' ungkapnya. (Agus Sukaryanto-42h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA