logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 27 Februari 2006 RAGAM
Line

Keberadaan Alam

DALAM Alquran surah Yasin : 38 disebutkan, matahari beredar dengan sumbu edarnya. Ini sebagai takdir yang ditetapkan Allah swt. Ini berarti perilaku matahari bertawaf. Sesungguhnya menjadi contoh perilaku tawaf seluruh benda-benda angkasa. Ini bisa jadi sebagai persembahan tasbih atau tanda ketaatan mereka kepada sang Khalik.

Dalam laporan umum dianyatakan, setiap tiga menit sekali satu bintang meledak dengan ledakan yang sangat kuat, ini yang disebut dengan peristiwa Supernova. Pertanyaan yang akan diajukan di sini adalah apakah tidak menutup kemungkinan suatu saat matahari meledak. Kita tinggal menunggu, tiga menit ke berapa saatnya bintang matahari meledak. Bila saatnya ini terjadi, maka otomatis di mana bumi menjadi salah satu planet keluarga matahari akan mengalami guncangan.

Saat itulah apa yang dinyatakan huru-hara kiamat sebagaimana yang dikemukakan surat Al Zalzalaha, tidak mustahil akan terjadi. Ini bisa terjadi karena gaya sentrifugal dan sentripetal bumi mengalami ketidakstabilan akibat tidak adanya magnet matahari. Saat itu pula seluruh manusia, tanpa kecuali binasa.

Memperhatikan perilaku alam yang bersesuaian dengan pernyataan kalamullah dalam Alquran jelas terlihat, alam ini akan binasa karena adanya batas waktu, termasuk manusia di dalamnya. Melihat usia, semua makhluk juga manusia dalam perjalanan bilangan waktu bertambah, tapi bila melihat dari umur semuanya semakin berkurang.

Umur bumi semakin berkurang , umur manusia pun, baik secara kolektif maupun pribadi pasti semakin mendekati masa akhir (ajal).

Esok kita akan pulang menghadapnya. Sesungguhnnya setiap kita, manusia tidak ada yang sanggup menolak kehendak dan peraturan Allah : "Setiap yang berjiwa pasti mati" (Ali Imran : 185). Ini sunatullah

Dipermainkan Iblis

Kita saksikan di awal tahun 2006 ini masih banyak saudara-saudara kita yang masih dipermainkan oleh iblis dalam menyambut tahun baru, padahal, hakikatnya setiap detik mengandung masa yang baru.

Jadi hakikatnya bagi muslim yang cerdas dan dewasa, tidak mengenal istilah tahun baru . Yang ada memperbaharui cara hidup agar lebih nyaman dan lebih bermutu, sementara kebanyakan kita masih saja terutama di awal tahun baru bertindak kekanak-kanakan.

Contohnya mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan dengan meniup terompet, padahal usia mereka sudah lanjut. Kapankah mereka manjadi dewasa? Ada cara lain seperti berdansa pria-wanita berbaur tanpa penutup aurat layaknya orang dewasa yang memiliki rasa malu, setelah itu, mereka menuruti hawa nafsu kebinatangannya, sehingga timbul keributan dan malapetaka di sana-sini.

Kalau boleh dikatakan di sini rasanya tak pantas. Apakah mereka belum dewasa, karena cara berfikirnya sesaat dan tidak berfikir masa depan, apalagi yang disebut hari kiamat? Keadaan seperti ini menjadi PR kita bersama untuk membenahi sifat kekanak-kanakan ke arah perilaku dewasa.

Sekali lagi setiap muslim sesungguhnya adalah orang dewasa nan cerdas. Mereka ini tidak hanya berfikir masa kini, seperti asyik berpesta pora, menghamburkan waktu yang tak ada guna.

Mereka adalah manusia pilihan yang mampu menembus dan memandang masa depan atau kiamat, mereka adalah penyelamat, sebab memang makna muslim adalah penyelamat. Mereka adalah penyelamat diri, keluarga dan masyarakat bahkan penyelamat dunia, jadi setiap muslim hakikatnya mendapat amanah Rabbinya.

Keangkuhan Diri

Rasulullah bersabda : "Mereka yang dalam hatinya ada keangkuhan diri walaupun hanya sebesar biji wawi, tidak akan masuk surga. Keangkuhan diri merupakan lawan dari kepasrahan diri."

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, yang dimaksud oleh Rasulullah saw,dengan keangkuhan diri atau kesombongan itu adalah, menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Sejalan dengan itu Imam Ghozali berpendapat, keangkuhan diri adalah perasaan superior dalam pikiran, memandang orang lain lebih rendah dari dirinya.

Karena keangkuhan diri inilah Iblis dilaknat Allah, yaitu taktala ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena semata-mata merasa dirinya yang dibuat dari api, merasa lebih hebat dari Adam yang berasal dari tanah.

Banyak orang yang mungkin tanpa disadarinya mengikuti jejak Iblis, yaitu memandang rendah orang lain karena bangga akan asal keturunannya, congkak dengan pangkat atau harta yang dimilikinya, atau bahkan dengan ilmu yang disandangnya.

Sebenarnya keangkuhan diri ini tidak perlu terjadi bila kita meredam mental untuk menyepelekan orang lain. Bukankah Rasulullah saw bersabda, "Bukan umatku, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda."

Hati-hatilah kita dalam hal yang berisiko tinggi ini, tanamkanlah selalu dalam jiwa kita peringatan Rasulullah saw. (11)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA