logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 27 Februari 2006 MURIA
Line

Berbekal Takwa dengan Tidak Merusak

Oleh: Muhammad Sulis - Siswa MA NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus

KALAU kita melihat keadaan alam di Indonesia, sudah tidak menentu. Baik perbukitan maupun dataran rendah, yang semula hijau menyenangkan menjadi kering tanpa ada kehidupan.

Banyak pohon ditebang dengan tidak menggunakan aturan, tetapi hanya menggunakan prinsip mendapatkan untung tanpa mempertimbangkan sebab akibat perbuatannya.

Akibatnya, terjadilah bencana alam baik berupa banjir maupun tanah longsor hingga bencana alam besar yang merusakkan banyak bangunan, hingga memakan korban nyawa manusia seperti tsunami di Banda Aceh, banjir bandang di Jawa Timur, tanah longsor di beberapa daerah di Jawa Tengah. Besar kecilnya bencana alam pasti mengakibatkan kerugian.

Dengan adanya bencana itu, mari kita perhatikan asal terjadinya dengan bijak, sehingga kita akan menemukan solusi konkret yang dapat kita laksanakan bersama di lapangan. Ternyata bermula dari perbuatan manusia itu sendiri yang tidak bertakwa, tidak bertanggung jawab atas posisi ia sebagai makhluk Allah. Manusia harus saling menghormati dan memelihara sesama ciptaan Tuhan.

Hal tersebut telah dijelaskan dalam Alquran, bahwa kerusakan di alam semesta diakibatkan perbuatan manusia (yang tidak bertanggung jawab) itu sendiri.

Makna dari takwa itu sangat luas, arti sempitnya adalah kita harus melakukan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ini mengandung pengertian bahwa kita senantiasa mempunyai dua hubungan.

Pertama, hubungan kita kepada Pencipta (hablum minallah). Artinya kita dituntut untuk mengabdikan diri dengan jalan melakukan perbuatan yang diperintahkan dan meninggalkan segala perbuatan yang dilarang Allah berupa beribadah dengan benar.

Kedua, hubungan kita dengan sesama makhluk (hablum minannas).

Di sini juga kita dituntut melakukan perbuatan yang diperintahkan dan meninggalkan segala perbuatan yang dilarang Allah, berupa melakukan kemaslahatan umat manusia dan tidak melakukan segala perbuatan yang berdampak merugikan kepada orang lain ataupun makhluk lain sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan ketakwaan, seseorang tidak mungkin melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain, seperti membuang sampah sembarangan (perbuatan zalim), menebang pepohonan secara liar tanpa ada pertimbangan kemaslahatan bagi orang lain. Demikian juga pemangkasan perbukitan, sehingga terjadilah banjir dan longsor tanah.

Karena itu, kita harus berbekal diri dengan takwa, sehingga tidak merusak, menganiaya, menyia-nyiakan, merugikan orang lain yang mengakibatkan bencana alam. (61s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA