| Senin, 27 Februari 2006 | INTERNASIONAL |
Nenek-nenek pun Masih Gemar TaekwondoSEOUL - Usia tua bukan alasan untuk menjadikan orang lemah dan rapuh. Buktinya, nenek-nenek di Korea Selatan sedang keranjingan olahraga bela diri taekwondo. Secara rutin, mereka berlatih melakukan tendangan tinggi dan memukul. Salah seorang nenek tangguh itu adalah Ji Bok-hyun yang berusia 74 tahun. Nenek yang memiliki lima cucu itu biasa berlatih taekwondo di sebuah gimnasium Inchon, sekitar satu jam perjalanan ke barat Seoul. Di gimnasium itu, ada 23 nenek berusia rata-rata 70-an tahun yang berlatih olahraga bela diri tradisional Korea tersebut. Selama ini, taekwondo memang diajarkan di sekolah-sekolah Korsel. Bahkan, sebagian besar pemuda di negara itu berlatih bela diri itu sebagai bagian dari wajib militer. Namun bagi para nenek itu, taekwondo adalah cara untuk mempertahankan kesehatan mereka. Selain itu, taekwondo membuat mereka gembira. ''Pukul! Saya benar-benar memukul papan itu. Latihan ini menghilangkan stres,'' kata Ji, yang telah berlatih taekwondo selama sembilan tahun terakhir. Sabuk Hitam Dia saat ini merupakan pemakai sabuk hitam (peringkat tertinggi) dan dipercaya untuk memimpin latihan. Sepuluh nenek di tempat itu telah mencapai sabuk hitam. Umumnya, para atlet taekwondo ingin memecahkan kepingan ubin atau bilah papan dengan kaki, tangan, atau kepala mereka. Namun para taekwondoin lanjut usia ini memecahkan bilah-bilah plastik yang telah dibuat retak lebih dulu. Tidak ada pertarungan satu lawan satu di antara nenek-nenek itu. Kendati demikian, mereka mengatakan siap menghadapi siapa pun yang menyerang mereka. Latihan taekwondo memang menjadi rekreasi bagi mereka. Saat berlatih melakukan tendangan tinggi, Cho Jong-jae (74) berteriak meniru suara Bruce Lee. Kawan-kawannya tertawa mendengar teriakan itu. ''Saya tidak pernah sakit sejak saya berlatih di sini tiga tahun lalu. Ini sangat menyenangkan. Jika tidak senang, saya tentu tidak akan mau berlatih,'' kata Cho, yang memakai sabuk merah. Kim Hee-bok (77) merupakan anggota tertua dalam kelompok itu. Dia sedang memusatkan perhatian untuk melakukan kayang dan merentangkan kedua kakinya. Sebelum bergabung dengan gimnasium itu, dia sulit melakukan gerakan sederhana lantaran dia mengidap diabetes dan radang sendi selama bertahun-tahun. ''Saya dulu tidak bisa naik lima anak tangga di rumah. Kini saya bisa naik turun lebih dari 50-60 anak tangga,'' kata dia. ''Berlatih di sini jauh lebih baik ketimbang berobat di rumah sakit. Bahkan dokter saya akhirnya ikut latihan setiap hari,'' ujarnya.(rtr-ben-25) |