| Sabtu, 25 Februari 2006 | SALA |
Belum Semua Kredit UKM TerserapSRAGEN - Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali mengemukakan penyaluran dana kredit pemerintah untuk usaha kecil dan menengah (UKM) melalui sejumlah bank Rp 2,7 triliun yang ditetapkan pada tahun lalu sampai kini belum semua terserap. Masih ada sisa kredit belum disalurkan. ''Namun beberapa bank sudah menyalurkan kredit UKM 100%,'' tutur Menteri saat mengunjungi Bazar dan Lelang Batik di Sragen, kemarin. Dia menyatakan pada tahun ini pemerintah belum mematok besaran kredit UKM. ''Sebab, penyaluran kredit tahun lalu saja belum semua terserap.'' Ketika menyinggung keterlibatan pengusaha kecil dan menengah dalam produksi batik, dia menyatakan yakin pasaran batik di Indonesia prospektif. Namun dia mengingatkan batik yang memiliki unsur budaya, seni, dan komersial yang dibuat dengan corak lokal harus tetap berselera nasional. Menteri didampingi Bupati Sragen Untung Wiyono, Bupati Karanganyar Rina Iriani, Wakib Bupati Ngawi Budi Sulistyono, serta staf ahli Gubernur Jawa Tengah Sismadji mengunjungi pameran dan stan bazar batik di Galeri Sukowati, Sragen. Sismadji menyatakan di wilayah Surakarta, termasuk Sragen, ada sekitar 215 motif batik. Di Pekalongan ada 96 motif batik yang sudah dipatenkan. ''Agar hasil cipta batik produk daerah tak dipalsukan atau ditiru sebaiknya dipatenkan.'' Pasti Laku Dia menyatakan batik simpel tetapi formal, cocok untuk acara pemerintahan, keagamaan, dan menghadiri hajat pernikahan. Dalam segala keadaan tampaknya pas memakai batik. ''Kalau corak lokal berselera nasional, saya yakin pasti laku. Di mana pun laku,'' kata Menteri Koperasi yang pernah didaulat sebagai peragawan yang mengenakan batik produk Danarhadi Solo di Jakarta. Apalagi, kata dia, kualitas batik Solo atau Pekalongan lebih baik ketimbang batik China. Mutu batik Solo yang didominasi warna cokelat kekuningan lebih baik ketimbang batik Madura atau Papua. Untuk kali pertama Pemerintah Kabupaten Sragen, kemarin, mengadakan bazar dan lelang batik besar-besaran. Puluhan stan dalam acara berlabel ''Lelang Batik Sukowati 2006'' itu melibatkan para pengusaha serta perajin batik Sragen, Sukoharjo, Klaten, dan Karanganyar. Dipamerkan pula batik koleksi dari perajin Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, dan Plupuh, Sragen. Bupati Untung Wiyono berharap kerajinan batik Sragen dapat dikembangkan agar meningkatkan perekonomian rakyat. ''Sragen adalah salah satu sentra industri batik, selain Pekalongan dan Solo,'' tuturnya. Dia menyatakan sumbangan industri batik ke pendapatan daerah cukup signifikan. Batik juga sudah lama jadi sumber pendapatan utama masyarakat di Masaran dan Plupuh. ''Tenaga kerja yang terserap sekitar 10.000 orang. Jadi industri batik tak boleh dipandang sebelah mata.'' Ketua panitia Musdiman menyatakan hari ini di pendapa rumah dinas Bupati diadakan seminar batik. Seminar itu untuk memperkenalkan potensi dan prospek batik Sragen dari sudut pemerhati, pegiat LSM, akademisi, dan pemerintah. Pembicara Bupati dan akademisi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. ''Seminar akan dihadiri pakar, peneliti, dan pemerhati batik. Para eksportir serta perajin batik sukses serta Balai Batik di Yogyakarta menyatakan akan hadir.'' Dalam pembukaan bazar dan lelang, kemarin, Didi Kempot berduet dengan Bupati Karanganyar Rina Iriani. (nin-53) |