logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Februari 2006 SALA
Line

Buka Luwur Dijadikan Aset Wisata

WARGA masyarakat Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, kembali menggelar sadranan atau buka luwur di makam Ki Ageng Pantaran di Dukuh Candisari, Desa Ngagrong. Sebelumnya ritual yang diyakini membawa berkah tersebut hanya dilakukan warga masyarakat desa itu. Namun sejak April 2001 acara itu dikemas sedemikan rupa sehingga menjadi aset wisata.

Dalam acara kemarin hadir Wakil Bupati Seno Samudro, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Y Sriyadi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sri Ardiningsih, dan Camat Ampel Tasno. Sri Ardiningsih ketika memberikan sambutan menyatakan buka luwur harus dilestarikan. Dia berharap upacara tradisi menarik wisatawan mancanegara dan domestik. ''Karena itu pemerintah berkepentingan melestarikan.''

Dirikan Masjid

Menurut penuturan warga desa, ratusan tahun lalu di Dukuh Candisari ada sebuah kampung yang dikenal dengan nama Pantaran, hutan belantara. Konon di daerah itu hidup seorang pertapa. Banyak orang datang untuk menimba ilmu kepada sang wiku. ''Namun waktu itu belum diketahui apa agama sang wiku dan pengikutnya,'' kata Dimo, warga Kecamatan Ampel.

Suatu hari, ujar dia, datang seorang aulia, Syekh Maulana Malik Ibrahim Magribi. Dia bermaksud mengajarkan agama Islam.

Syekh Maulana menemui sang wiku dan para pengikutnya. Kelak, sang wiku dan para pengikutnya memeluk agama Islam dan sejak saat itulah berdirilah sebuah masjid di desa tersebut.

Syekh Maulana mengirim utusan ke Demak untuk meminta bantuan kayu jati guna mendirikan masjid. Namun permintaan itu tak dikabulkan karena saat itu para wali sedang membangun Masjid Agung Demak. Syekh Maulana memutuskan bangunan masjid itu memakai kayu seadanya. Karena pendirian masjid itu sepantaran dengan Masjid Agung Demak, Syekh Maulana menyebut daerah itu Pantaran dan sang wiku mendapat sebutan Ki Ageng Pantaran.

Sampai sekarang nama Pantaran masih terkenal, sedangkan makam Ki Ageng Pantaran menjadi tujuan banyak peziarah. Biasanya peziarah datang Kamis malam.

Sementara itu, kemarin, buka luwur ditandai arak-arakan 20 orang yang berpakaian kejawen. Mereka membawa kain mori putih dan payung motha. Tiba di makam Kia Ageng Pantaran, mereka menyerahkan mori dan payung kepada juru kunci menganti tutup batu nisan dan payung lama yang telah terpasang selama setahun.

''Kain mori itu jadi rebutan karena konon membawa berkah,'' kata Yulianto, seorang pengunjung. (Suti Harjoyo-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA