logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Februari 2006 SALA
Line

"Mana Sih Rajanya, Saya Pengin Ketemu Lho ..."

"KERATON kok tidak ada rajanya. Mana sih rajanya? Saya pengin ketemu lho!" Begitulah salah satu celoteh khas anak-anak. Rasa ingin tahunya besar, sehingga ketika mengunjungi Keraton Surakarta Hadiningrat, mereka menanyakan sang Raja, yang tak bisa mereka temui.

Padahal, berdasarkan cerita yang diperoleh dari gurunya, keraton dipimpin oleh seorang raja. Mungkin mereka beranggapan bisa ketemu raja setiap saat.

Kemarin, 30 murid Taman Pendidikan Prasekolah Al Firdaus, yang rata-rata masih berusia di bawah 6 tahun melihat-lihat peninggalan budaya di Keraton.

Mereka dibimbing oleh dua orang guru serta dipandu Pak Gati, abdi dalem Keraton yang bertugas mendampingi para tamu atau pengunjung.

"Wah, keretanya bagus dan besar ya ...." kata seorang anak ketika melihat kereta kencana pusaka di museum keraton.

Dengan sabar Pak Gati menerangkan, kereta pusaka tersebut bernama Kiai Garuda, yang dulu dipakai oleh Paku Buwono X.

Ada pula dandang raksasa yang menarik perhatian anak-anak, karena mereka mungkin mengenal benda yang biasa digunakan untuk menanak nasi itu.

Dandang Raksasa

Namun, mereka heran, karena bentuknya sangat besar. Pak Gati menjelaskan, benda itu bentuknya besar, sebab digunakan untuk menanak 50 kg beras.

"Ini untuk memasak nasi para abdi dalem. Jumlah abdi dalem banyak, sehingga biar semua uman (kebagian-Red), memasaknya pakai alat yang besar," jelasnya.

Hampir semua benda peninggalan budaya di museum ditanyakan, misalnya berbagai jenis senjata dan guci, kecuali wayang, karena di Al Firdaus kesenian tradisional tersebut dikenalkan kepada para murid sejak Prasekolah, Play Group, dan taman kanak-kanak (TK).

"Kalau yang ini saya tahu. Wayang kan...," ujar beberapa anak hampir berbarengan

Saat Pak Gati menerangkan silsilah raja yang berkuasa di Keraton Surakarta mulai Paku Buwono I sampai XIII sekarang, spontan anak-anak itu bertanya, "Sekarang rajanya di mana, Pak? Bisa tidak saya bertemu dengan Raja?" tanya mereka spontan.

Disertai senyum dikulum, abdi dalem itu menerangkan, raja tidak bisa menemui mereka, karena punya banyak kesibukan.

"Raja juga tidak bisa bertemu dengan pengunjung keraton setiap saat, karena banyak urusan yang harus dikerjakan. Kalau kalian ingin bertemu, suatu saat pasti bisa karena raja pun sebenarnya ingin setiap saat bisa menemui warga. Raja titip salam sayang untuk anak-anak semua," tutur Pak Gati.

Anak-anak bisa menerima penjelasan tersebut dan tidak merasa kecewa. Mereka tertawa senang menyambut salam dari Raja. (Joko Dwi Hastanto-27h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA