| Sabtu, 25 Februari 2006 | SALA |
Solo Minim Peralatan RescueJEBRES-Meski memiliki sumber daya manusia (SDM) mencukupi, ketersediaan peralatan rescue (penyelamatan) untuk penanganan emergency (darurat) saat terjadi bencana di Solo masih minim. Padahal Kota Bengawan termasuk daerah rawan bencana, terutama banjir. "Pemkot semestinya tanggap atas kondisi itu, karena peralatan tersebut sangat dibutuhkan ketika terjadi suatu musibah. Kan tidak mungkin dalam kondisi darurat kita harus meminjam peralatan dari luar kota," kata Ari Kristiyono, Sekretaris Panitia Pelatihan Penanggulangan Banjir di kolam renang Tirtomoyo, Jebres, baru-baru ini. Potensi SDM yang tidak mengumpul, lanjut dia, sering menjadi kendala dalam penanganan bencana. Padahal kalau elemen-elemen tersebut tidak berjalan sendiri maka tentu menjadi kekuatan ampuh untuk menangani bencana. Tak Diragukan Beberapa elemen yang ada di Solo antara lain Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Search and Rescue (SAR), PMI, Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), serta Amateur Radio Emergency Services (ARES) ORARI. "SDM di Solo sudah tidak perlu lagi diragukan kualitasnya. Elemen yang ada itu sudah cukup teruji di beberapa daerah bencana, misalnya saat tsunami di Aceh. Akan lebih baik kalau kerjanya disatukan lagi, tidak jalan sendiri-sendiri," tutur Ari. Saat ini, kata dia, Pemkot Solo hanya memiliki beberapa peralatan penanganan emergency yang terbatas. Itupun beberapa di antaranya dititipkan di UNS lantaran saat datang tidak ada SDM yang mampu mengoperasikan. "Peralatan rescue semacam air mask untuk penanganan musibah kebakaran, Solo tidak punya. Padahal kota ini termasuk daerah rawan kebakaran. Peralatan ekstrifikasi (pemotong hidrolis) dan peralatan rescue standar lainnya juga tidak punya," tambahnya. Khusus untuk penanganan banjir, dia menyatakan perlu pelibatan warga yang cukup terlatih. Selama ini belum banyak warga yang mengetahui cara penanggulangan musibah tersebut. "Solo memiliki karakteristik aneh. Meski banjir sudah sangat tinggi warga enggan mengungsi, karena seperti kejadian sebelumnya banjir segera surut. Warga masyarakat di kawasan rawan banjir sangat membutuhkan pelatihan," tegasnya.(G13-27) |