| Sabtu, 25 Februari 2006 | SALA |
LIPI Buat Visual Sejarah KeratonBALUWARTI - Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) selama tiga tahun sejak 2002 melakukan survei kepustakaan di Keraton Surakarta untuk mendapat bahan autentik. Hal itu digunakan sebagai penyusunan mata pelajaran Sejarah Nasional untuk konsumsi SD-SMA. Hasil survei yang dilengkapi dengan materi dalam bentuk audio-visual itu, selanjutnya akan diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam bentuk CD dan disebarkan ke sekolah-sekolah, untuk melengkapi buku Sejarah. "Intinya, survei dimaksud dalam rangka revisi pendidikan Sejarah Nasional. Sebab, ada kutipan mata rantai sejarah yang putus dan kurang benar dalam buku pelajaran Sejarah yang selama ini beredar. Khususnya menyangkut posisi dan eksistensi Keraton Surakarta di masa penjajahan kolonial masa lalu," tandas GPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata, kemarin. Menurut beberapa petugas survei LIPI waktu itu, lanjut nara sumber utama pada survei dan narasi CD sejarah Keraton itu, untuk keperluan revisi pendidikan Sejarah Nasional, lembaga tersebut mengadakan pengkajian dari sisi keilmuannya tentang sejarah Keraton. Runutannya, dimulai dari Keraton Mataram Islam di zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, hingga pindah ke Kartasura lalu ke Surakarta dan kini berusia 261 tahun. Hasil kajian dari sisi keilmuan itu, katanya, diolah lembaga penelitian dan pengembangan Depdiknas selaku pemegang otoritas di bidang kebijakan pendidikan. Karena yang dikehendaki pengajarannya dalam bentuk audio-visual selain buku pelajaran, setelah tugas LIPI selesai dilanjutkan pengambilan gambar serta proses narasinya selama beberapa hari di Keraton, belum lama ini. "Pengambilan gambar dilakukan di hampir semua tempat yang ada di kompleks Keraton. Batas kompleksnya mulai dari pintu masuk Gladag, bangunan inti di dalam Baluwarti, hingga batas selatan gapura Gading," sebut sederek dalem yang juga Pimpinan Sasana Pustaka atau Perpustakaan Keraton itu. Belum Lengkap Menurutnya, pengambilan gambar maupun proses pengisian narasi yang langsung dia tuturkan sendiri, masih belum lengkap dan akan berlanjut dalam waktu dekat. Yaitu, pengambilan kawasan bangunan Pendapa Pagelaran Sasanasumewa dan bangunan-bangunan pendukungnya, yang diharapkan bisa dilakukan tim dari Depdiknas Jakarta itu secepatnya. Namun, tidak semua gambar lokasi maupun narasinya akan ditampilkan lengkap dalam pelajaran Sejarah berbentuk tayangan audio-visual CD tersebut. Dia memperkirakan, pembelajarannya akan disesuaikan dengan porsi secara proporsional sesuai tingkatan konsumennya, mulai SD hingga SMA. "Misalnya, untuk SD yang ringan-ringan saja dan bisa diperkenalkan global atau salah satu sudut yang menjadi simbol khas Keraton. Untuk SMP ditambah agak lengkap. Kemudian untuk SMA, mungkin lebih lengkap lagi. Yang saya bayangkan seperti itu dan bagus sekali. Yang jelas, ada kemauan politik untuk meluruskan sejarah dan demi masa depan pendidikan dan kelangsungan penerus sejarah itu sendiri," harapnya. Hal utama yang ingin diluruskan dalam pembelajaran Sejarah di sekolah-sekolah serta untuk bangsa ini adalah posisi Keraton di masa pemerintahan kolonial Belanda yang selama ini dipandang miring. Karena, opini yang sudah terbentuk selama ini bahwa Keraton bekerja sama atau menjadi kaki-tangan Belanda. Padahal, SISKS Paku Buwono XII adalah raja yang pertama menyatakan berdiri di belakang republik ini ketika RI lahir di tahun 1945. (won-42d) |