logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Februari 2006 PANTURA
Line

Jualan Otok-otok sampai ke Luar Jawa

SIANG itu di sebuah perkampungan padat penduduk, di pinggir Kali Pemali terlihat sepi. Di dalam maupun di emperan rumah, beberapa orang dalam kelompok-kelompok kecil asyik bekerja membuat kerajinan mainan anak-anak yang biasa disebut otok-otok. Ada otok-otok helikopter, ikan lele, atau berbentuk kupu-kupu.

Kegiatan membuat mainan anak itu merupakan pekerjaan sampingan bagi sekelompok warga Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Di luar kegiatan tersebut mereka bercocok tanam di sawah. Meski demikian, dengan pekerjaan itu mereka bisa melanglang buana sampai ke luar Jawa. Ada yang pernah ke NTB, Kalimantan, Sumatera, dan Bali.

Otok-otok asal Desa Glonggong diakui atau tidak hampir menguasai pasar mainan anak-anak di antero Indonesia. Khususnya untuk jenis mainan tradisional yang tak tersentuh teknologi.

Mainan ini bentuknya sederhana dengan menggunakan bahan baku yang mudah didapat. Seperti bambu, karet sepon yang dipergunakan untuk bahan baku sandal jepit, kertas kado mengkilap, dan lem.

Alat untuk memproduksi juga manual, dibuat sendiri oleh perajin. Seperti alat pres untuk memotong sepon agar bisa menghasilkan roda pesawat, baling-baling sampai pisau cowek berbentuk celurit kecil. Pisau ini digunakan untuk membelah bambu yang digunakan untuk tangkai maupun as roda, bahkan untuk melubangi bambu, perajin tak menggunakan alat bor tapi menusukkan besi tajam yang lebih dulu dibakar.

Di desa berpenduduk 5.100 jiwa itu paling sedikit ada 20 perajin, dengan mempekerjakan sekitar 100 orang dari orang tua laki-laki, ibu rumah tangga sampai pemuda.

Yang sukses dengan usaha itu ada yang bisa naik haji.

"Pak Munawir menjadi haji berkat usaha otok-otok. Bedanya, dia khusus membuat otok-otok ikan lele dan kupu-kupu," ujar Adnan, Kepala Urusan Umum Desa Glonggong.

Adnan sendiri mengaku tahun 1972 pernah menekuni usaha tersebut, tapi setelah menjadi perangkat desa usaha tersebut diteruskan saudaranya yang lain.

Modal Rp 250.000

Tantoro (26), seorang perajin mengatakan dalam satu minggu dia bersama keluarga bisa menyelesaikan 1.000 unit otok-otok helikopter. Modal yang dikeluarkan sekitar Rp 250.000. Jika produksi dilempar pada pedagang luar kota, 1.000 unit bisa laku sampai Rp 450.000 atau setiap unit Rp 450. "Untungnya memang kecil, tapi daripada menganggur lebih baik bekerja seperti ini."

Kalau ingin mendapatkan keuntungan lumayan, Tantoro maupun pemuda desa di situ menjual sendiri ke luar kota. Di kota mereka bisa menjual satu unit, antara Rp 1.500 dan Rp 2.000. Tapi, di luar Jawa mainan itu bisa laku keras dengan harga tinggi, karena satu unit bisa mencapai Rp 3.500 sampai Rp 4.000.

Pengalaman Darwanto (24) lain lagi. Dia lebih suka menjajakan langsung ke konsumen, sekalipun harus pergi ke luar Jawa. Dia pernah ke NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sumatera.

Sekali membawa barang paling sedikit 5.000 unit. "Bapak saya sekarang berjualan mainan ini di Medan. Waktu berangkat membawa 6.000 unit otok-otok helikopter."

Hampir sebagian warga Glonggong yang berjualan mainan pernah menginjak kota besar. Mereka bisa memperoleh banyak pengalaman merantau, selain dari keuntungan yang didapat bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Menurut Adnan, pamong Desa Glonggong, kegiatan membuat mainan pada umumnya pekerjaan sampingan di kala musim kemarau. Namun, yang tidak memiliki lahan garapan di sawah memilih usaha ini sekalipun musim tanam tiba. "Ya siang bekerja di sawah, malam hari membuat mainan," ujarnya.

Kapan usaha kerajinan ini dimulai ? Adnan mengatakan kegiatan tersebut merupakan kegiatan turun temurun. Waktu dia kecil, bapak ibunya sudah usaha mainan itu.

Bedanya, zaman dulu mainan tersebut dibuat dengan bahan seadanya. Sepon yang digunakan untuk roda masih menggunakan kayu, sedangkan badan pesawat menggunakan karton tebal. (Wahidin Soedja-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA