| Sabtu, 25 Februari 2006 | INTERNASIONAL |
Thaksin Gelar Pemilu Awal
BANGKOK - Menghadapi tekanan yang makin meningkat terhadapnya, Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra akan menggelar pemilu awal 2 April, tiga tahun lebih cepat dari jadwal. "Saya akan membubarkan parlemen," kata dia kepada wartawan usai bertemu dengan Raja Bhumibol Adulyadej, Jumat kemarin. "Tidak akan ada perombakan kabinet," tambahnya. Sebelumnya, santer diberitakan Thaksin akan merombak kabinetnya. Sumber dari partai berkuasa mengatakan, rencana perombakan itu untuk mendongkrak citra pemerintah yang terus dikenai tuduhan korupsi. Thaksin akan mengizinkan parlemen membahas krisis politik pada 6 Maret, kemudian memutuskan apakah perlu digelar pemilu awal untuk menyelesaikan krisis ini. Thaksin mengutarakan lagi ancamannya dalam pidato di hadapan para petani. Sementara itu, kubu penentang berencana menggelar demonstrasi 100.000 orang di Bangkok Minggu besok. "Kalau kalian sudah muak dengan saya, pulangkan saja saya," kata dia di hadapan 3.000 petani di dekat Bangkok. Kehadiran para petani ini sekaligus menunjukkan bahwa 70 persen penduduk Thailand yang adalah petani masih mendukungnya. "Namun, jika kalian masih mempercayai saya, pilihlah saya dan saya akan bekerja untuk kalian," kata dia. Kemudian, dia menemui para pengusaha dan pejabat pemerintah. Pada pertemuan itu, dia mengumumkan kenaikan gaji pegawai negeri dan pemotongan pajak bagi para karyawan swasta, profesional dan pekerja lainnya. Menurut pengamat, kebijakan populis ini hanya akan menambah amunisi untuk menyerang Thaksin. Para ekonom berpendapat, pemerintah juga tidak akan cukup dana untuk menyokong kebijakan itu. Gelombang Kekerasan Chamlong Srimuang, tokoh yang membawa Thaksin terjun ke politik tetapi kini ikut dalam barisan anti-Thaksin, mengecam keras rencana pemerintah itu. "Pemerintah memanfaatkan uang rakyat untuk menaikkan popularitasnya yang sedang anjlok," kata Chamlong (70). Jenderal purnawirawan inilah yang memimpin gerakan people power 1992 menentang pemerintahan militeristik waktu itu. Aksi rakyat itu, kendati menelan korban jiwa 50 demonstran, berhasil menggulingkan pemerintah. Jejak sejarah Chamlong tak pelak mencuatkan kekhawatiran akan terjadinya kekerasan pada unjuk rasa antipemerintah Minggu besok. "Kami khawatir ada orang akan menciptakan situasi di mana dua kelompok seteru bertemu pada satu tempat dan kemudian timbul masalah," kata Menteri Pertahanan Thammarak Isaranura. Meskipun Chamlong mengatakan, para pengikutnya tidak akan bertindak anarkis, kelompok pengusaha merasa cemas dengan perkembangan situasi saat ini. Mereka meminta kedua pihak bisa menahan diri pada unjuk rasa itu. "Saya tidak memihak pemerintah atau pun oposisi. Saya hanya ingin melihat sistem demokrasi kita tetap diberi ruang," kata Anant Asavabhokhin, ketua Land and Houses Pcl, perusahaan real estat terbesar Thailand. Di pihak lain, Chamlong mengatakan unjuk rasa Minggu besok hanyalah awal dari aksi demonstrasi antipemerintah. "Unjuk rasa ini baru akan berakhir kalau Perdana Menteri mundur," kata Chamlong. Sikap Chamlong yang berbalik menentang Thaksin sangat mengejutkan banyak warga Thailand. Chamlong ikut turun ke jalan bergabung dalam aksi protes di depan Istana Agung. "Kami akan makan dan tidur di sana. Kami tidak tahu sampai berapa lama ini akan berlangsung," kata Chamlong. Dia menambahkan, dia memiliki kekuatan menggerakkan orang-orang turun ke jalan sekali lagi untuk "mengurung si raksasa".(rtr-gn-25) |