| Sabtu, 25 Februari 2006 | EKONOMI |
Merek Lokal Lebih Kuat BertahanSEMARANG- Selama ini seringkali banyak orang menyamakan arti brand (merek) dengan logo. Padahal, jangkauan merek lebih luas dari logo yaitu sebagai karakter yang mewakili sebuah produk/jasa/perusahaaan, sedangkan logo hanya sebagai benderanya saja. Merek terdiri antara lain merek lokal (local brand), nasional, maupun internasional. "Bila dibandingkan yang lainnya, merek lokal justru memiliki banyak kelebihan dan kekuatan antara lain karena identik dengan daerah tertentu. Sebagai contoh, ketika orang datang ke Semarang maka yang akan dicari sebagai oleh-oleh adalah Bandeng Juwana atau Lunpia. Kekuatan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh produk-produk nasional/internasional, sehingga mereka kesulitan untuk masuk ke suatu wilayah. Kesulitan semacam itu sering dihadapi oleh perusahaan rokok nasional yaitu menyangkut masalah taste (cita rasa). Masyarakat setempat sudah terbiasa dengan dengan cita rasa lokal," ungkap brand specialist, Alexander Mulya usai tampil di seminar bertajuk "Championing Local Brands-The Art Of Effective Marketing Communications", di Amartapura Ballroom, Grand Candi Hotel Semarang, Kamis (23/2). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dji Sam Soe Super Premium dan MarkPlus&Co. Alex mengungkapkan, secara teknis brand adalah indikator dari nilai. Apa yang dibeli konsumen sebenarnya bukanlah produknya tetapi adalah janji produsen (abstrak). "Merek adalah simbol manfaat fungsional dan emosional dari sebuah produk/jasa yang dijual. Merek juga melambangkan aspek-aspek negatif dari produk/jasa, meliputi harga atau biaya-biaya lainnya," ujarnya. Dia mengambil contoh mobil Ferrari, manfaat fungsionalnya adalah semua orang mengetahui kecepatan mobil itu bisa mencapai 350 km/jam. Sedangkan manfaat emosionalnya yaitu siapa saja yang mengendarainya adalah berjiwa muda dan sporty. "Ada pula produk Mercy yang dikenal sebagai top of the class. Bagi sebagian konsumen, harga produk Mercy yang semakin mahal itu justru semakin diminati. Hal ini disebut sebagai art of branding, dimana harga merupakan bagian dari strategi branding," tuturnya. Strategi Untuk Bertahan Selain segmentasi (menentukan pangsa pasar), ujar dia, strategi lain yang dapat diterapkan dalam menjalankan local brand adalah landscape business. "Untuk beberapa tahun ke depan, kita harus menentukan siapa saja pemain asing baik nasional atau internasional yang akan bermain di segmen kita. Selanjutnya, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu bertahan atau pindah segmen. Kalau bertahan, maka yang harus dilakukan adalah konsolidasi meliputi image, harga, dan distribusi," jelasnya. Bagaimana agar merek lokal dapat bertahan? Dia menjawab," Syaratnya ada tiga yaitu harus memiliki (menciptakan) keunikan tersendiri, memiliki kedekatan dengan masyarakat untuk menciptakan popularitas, serta mengenali pasar lebih dekat lagi".(H10-59) |