| Sabtu, 25 Februari 2006 | EKONOMI |
Perekonomian Solo Tumbuh, tapi Inflasi Tinggi
SOLO- Perekonomian di wilayah Surakarta selama 2005 mengalami peningkatan pertumbuhan walau relatif kecil, yakni hanya 1,54 persen. Dibandingkan tahun 2004 yang tumbuh hanya 5,08 persen, tahun 2005 naik menjadi 6,25 persen. Sektor-sektor penyumbang pertumbuhan itu antara lain perhotelan, perdagangan, restoran, dan sektor jasa. ''Harus diakui, pengaruh kenaikan bahan bakar minyak, melemahnya nilai tukar rupiah di paruh kedua smester II tahun 2005, menjadi penyebab utama melambatnya pertumbuhan ekonomi di wilayah ini,'' kata Sutikno, Kepala Kantor BI Solo, kemarin. Di antara tujuh wilayah di eks Karesidenan Surakarta yang mengalami kenaikan pertumbuhan cukup tinggi, yaitu Karanganyar dan Kota Solo. Karanganyar meningkat 2,84 persen menjadi 7,92 persen dan Kota Solo 8,38 persen. Sayangnya, kenaikan pertumbuhan yang tak terlalu besar itupun masih ditambah dengan laju inflasi yang sangat tinggi, terutama karena BBM dan faktor musiman seperti Hari Raya Idul Fitri dan Natal serta Tahun Baru. Pengaruh musiman itu meningkatkan konsumsi masyarakat, terutama terhadap produk barang dan jasa yang sangat sensitif terhadap kenaikan inflasi. Kabupaten Wonogiri menjadi wilayah dengan laju inflasi tertinggi, yakni 17,6 persen sedangkan Klaten peringkat kedua 16,88 persen. Menurut Sutikno, dilihat dari kelompok penyumbang inflasi, komunikasi dan transportasi merupakan penyumbang tertinggi, mencapai 44-57 persen. kenaikan suku cadang dan BBM memang menjadi kontribusi terbesar inflasi di sektor tersebut. Hal itu sudah terjadi sebelum kenaikan, ketika isu sudah mulai bergulir. Faktor kedua adalah bahan makanan yang berkisar antara 24-26 persen. Tahun 2006 ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan bisa tumbuh meningkat sampai 2,5-3 persen dibandingkan tahun 2005. Rasa optimisme ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia terhadap 100 responden berbagai kalangan pengusaha dari berbagai sektor. Alasan utama karena situasi sudah relatif stabil, harga tidak lagi fluktuatif, dan siklus musiman yang memang meningkat. ''Tapi mereka juga mengkhawatirkan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) apalagi sebagaimana BBM dulu, pemerintah sudah menggulirkan rencana jauh-jauh hari, bahkan terjadi silang pendapat. Hal itu menjadi faktor penekan dan memberatkan dunia usaha, terutama sektor industri,'' tandas Sutikno. Meski begitu, semester I tahun 2006 diprediksi tidak terlalu mengkhawatirkan. Laju inflasi masih akan berkisar cukup rendah, antara 4,4 - 5,4 persen, lebih rendah dibandingkan smester I tahun 2005 yang mencapai 9-12 persen. (an,bt-59) |