| Jumat, 24 Februari 2006 | MURIA |
20 Tahun Jadi "Rara Mendut"RAUT muka Mbah Basinah (75) tiba-tiba mengguratkan kesedihan mendalam. Beberapa tetes air mata itu pun bergulir ketika dirinya mendapat pertanyaan, apakah mendapat subsidi tunai langsung (SLT) dari pemerintah. Penduduk Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus yang mengaku sudah menjadi "Rara Mendut" (penjual rokok eceran) tak jauh dari pasar kecamatan selama 20 tahun lebih itu sambil terbata mengaku tak pernah merasakan bantuan itu. "Saya sebenarnya kepingin sekali tetapi hingga saat ini juga tak pernah didaftar-daftar," ungkapnya menerawang. Keheranan seolah dilontarkannya ketika dia menceritakan banyak sekali orang yang secara ekonomi lebih mapan darinya, rela berdesakan menerima bantuan itu. Namun, janda yang telah dua kali menikah dan terakhir ditinggal mati suaminya itu menyatakan dapat menerima hal tersebut. "Meskipun di hati kelara-lara, apa boleh buat," ucapnya. Kini, seperti halnya puluhan waktu silam, perempuan tua dengan rambut di kepalanya yang terlihat jarang dan memutih, masih mampu menghidupi dirinya dengan berjualan rokok. Langganannya, ujar dia, yang jelas adalah para sopir atau kernek yang mungkin sudah terlalu sering melihat wajah keriputnya. Tak banyak memang yang dapat dihasilkan dari kotak kecil asongan tempat menjajakan rokok dagangannya. Dalam sehari, sejak membuka dasaran mulai pukul 09.00 hingga menjelang sore, dia paling mendapat untung Rp 5.000-Rp 6.000. "Sekarang pendapatan saya berkurang akibat banyaknya pedagang rokok. Selain itu, modal usaha saya kalah dibanding para pedagang itu," ujarnya. Beli Makanan Rezeki yang didapatnya setiap hari, biasanya langsung dibelanjakan untuk membeli makanan bagi dirinya dan sedikit untuk anaknya, tempat dia tinggal beberapa tahun terakhir. Padahal, apa yang diperolehnya dalam sehari itu masih harus dikurangi dengan ongkos angkot. Jadi, praktis dalam sehari jumlah rupiah yang benar-benar dapat digunakan untuk sandaran hidup tak lebih dari Rp 3.000- Rp 4.000. "Namanya juga usaha, saya tak ingin menggantungkan hidup dengan hanya berdiam diri saja," tekadnya. (Anton Wahyu Hartono-15j) |