logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 24 Februari 2006 KEDU & DIY
Line

Persoalan Penambangan Pasir Merapi (3-Habis)

Ekosistem yang Rusak Akan Dikembalikan

MENGENDALIKAN kegiatan penambangan pasir Merapi bukan urusan mudah. Sebab, persoalannya sangat rumit. Sementara itu, pasir Merapi banyak dicari karena kualitasnya baik. Sebagai bahan bangunan, memiliki daya rekat yang kuat.

Meski pelik, Bupati Magelang Ir H Singgih Sanyoto tetap bertekad akan mengembalikan ekosistem yang sudah rusak akibat penambangan pasir, antara lain melalui upaya reboisasi lahan dengan tanaman produktif.

Kerusakan lingkungan di sana, seperti terkelupasnya top soil berikut pasir di bawahnya dalam volume yang besar. Kemudian berkurangnya secara signifikan jumlah tegakan di lereng Merapi. Juga semakin dalamnya dasar sungai, mengganggu dan bahkan merusak sistem tata air.

Fenomena tersebut menghadirkan dampak negatif bagi masyarakat dan Pemkab. Misalnya matinya beberapa mata air, berkurangnya debit air sungai, dan terganggunya budi daya pertanian.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang Drs Bagus Surachmad mengemukakan, tujuannya mereboisasi lahan untuk memberikan pendapatan bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan penambangan agar nantinya tidak tergantung pada aktivitas penambangan.

''Namun, tanaman itu paling cepat baru akan memberikan hasil lima tahun mendatang,'' ujarnya. Kegiatan itu dinamakan Program Pengembangan Ekonomi Kawasan Pegunungan (PEKP). Program ini dilaksanakan setelah Bupati menutup beberapa lokasi penambangan pasir yang berpotensi merusak lingkungan.

Untuk itu, Pemkab bekerja sama dengan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pembantu Dekan III Dr Suratman Woro Suprodjo MSc mengatakan, sejak pertengahan Maret 2004 lalu, sebenarnya telah dilaksanakan program penanaman berbagai anakan pohon, seperti durian, sukun, petai, jeruk keprok, dan avokad pada lahan seluas sekitar 50 hektare. Antara lain Desa Kemiren 20 ha, Kaliurang (10 ha), Ngargosuko (5 ha), Sengi (5 ha), dan Sumber (5 ha).

Setiap hektare ditanam sekitar empat ratusan anakan pohon dengan jarak setiap pohon lima meter.

Menurut pandangan dia, peningkatan kesadaran anggota masyarakat akan menaikkan kualitas lingkungan kawasan pegunungan. Buntutnya, peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, terciptanya kawasan agroturisme, sekaligus sebagai laboratorium lapangan pelestarian ling kungan hidup.

Dia mengemukakan, kawasan Gunung Merapi menjadi laboratorium lingkungan hidup yang pertama ada di Indonesia jika kesadaran warga untuk upaya pelestarian lingkungan semakin tinggi.

''Sebab, selama ini belum ada laboratorium lingkungan hidup di Indonesia. Diharapkan, Merapi yang pertama,'' ujar Pembantu Dekan III Fakultas Geografi UGM itu.

Laboratorium itu akan memicu pengembangan kawasan berbasis riset untuk menciptakan eduturism. (Tuhu Prihantoro-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA