logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 24 Februari 2006 BANYUMAS
Line

Budi Daya Ikan Margo Rukun Berbuah Prestasi

SEMENJAK Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman atau yang akrab disebut Waduk Mrica beroperasi, geliat masyarakat sekitar untuk memanfaatkan potensi mulai terlihat. Yang paling menonjol adalah usaha di bidang perikanan, baik penangkapan maupun budi daya.

Warga Desa Karangjambe, Kecamatan Wanadadi yang separo desanya terendam untuk waduk tersebut, tak mau ketinggalan. Mereka menggelar karamba jaring apung untuk membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar. Semula, pada 1990-an mereka berusaha di perairan sekitar Wanadadi. Namun karena arus balik air permukaan dengan air dalam pada 1997, mereka pindah tempat.

Waktu itu banyak ikan yang mati karena air dalam dan kotoran dasar waduk mencemari sehingga ikan keracunan. Mereka pindah ke tempat yang lebih aman di sekitar kompleks wisata. Selanjutnya, mereka membentuk kelompok perikanan Margo Rukun.

''Perpindahan ke zona yang aman ini dengan izin dan harus kami perbaharui setiap tahun. Ada juga syarat-syarat tertentu yang diajukan kepada kami untuk menjaga lingkungan sekitar waduk,'' tutur Ketua Kelompok Perikanan Margo Rukun Desa Karangjambe Lastono.

Tak diduga, jerih payah kelompok perikanan dengan anggota 45 pemilik karamba ini berbuah prestasi. Yakni, juara Lomba Budi Daya Nila Tingkat Nasional pada 2005. Belum lama ini mereka menerima hadiah berupa satu set mesin giling pelet dan uang tunai Rp 8,5 juta dari Pemerintah Pusat. Dari Pemprov, mereka mendapatkan tali asih Rp 5 juta, satu unit komputer, dan pompa air. Sementara dari Pemkab, Rp 10 juta dan uang pembinaan Rp 5 juta.

Enam Bulan

Margo Rukun yang berdiri pada 13 Januari 1998 itu sudah menelorkan dua kelompok perikanan yang digawangi anak muda dan ibu-ibu rumah tangga. Pada 17 Mei 2000, berdiri kelompok wanita Usaha Mina yang mengelola ikan goreng. Sementara pada 24 Mei 2005, berdiri Rukun Usaha Muda dengan anggota para pemuda.

''Saat ini kami cenderung mengembangkan ikan nila. Sebab, biayanya murah, mudah dibudidayakan, dan masa pemeliharaan hanya enam bulan. Pemasaran juga gampang meski harga tak terlalu tinggi,'' tutur Lastono.

Dia menuturkan, pedagang dari Purbalingga, Wonosobo, Purwokerto, Kebumen, dan lokal Banjarnegara biasa datang ke karamba mereka. Jika sudah demikian, tinggal menangguk hasil. Sekali panen untuk karamba ukuran 10x12 meter dalam enam bulan, bisa menghasilkan Rp 13,5 juta. Jika dikurangi biaya produksi dan pembuatan karamba, pendapatan bersih setiap panen Rp 2,7 juta.

Saat ini ada 524 karamba milik 96 warga Karangjambe. Namun yang tergabung dalam kelompok perikanan Margo Rukun baru 45 orang. Satu karamba biasanya bisa bertahan hingga 10 tahun lebih, jika dilakukan pemeliharaan rutin setiap tahun. Namun saat ini, petani kekurangan modal untuk mengembangkan usaha.

''Yang jadi masalah, terkadang petani sudah butuh uang sebelum memanen. Selain itu, air waduk yang keruh membuat ikan berkembang. Padahal, kami berharap prestasi nasional ini bisa terus dipertahankan.''(M Syarif SW-55m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA