| Senin, 20 Februari 2006 | SALA |
Bayi Tanpa Anus Meninggal setelah DioperasiWONOGIRI - Bayi yang lahir tanpa anus, anak pasangan Parmin (40) dan Tukiyem (38), meninggal setelah menjalani operasi bedah pembuatan lubang anus di RS Dr Moewardi Surakarta. Bayi berkelamin perempuan itu gagal melewati masa kritis pascaoperasi. Ketua RT 2 RW 2 Dusun Kenteng, Sutarso, dan Kepala Desa (Kades) Ngadirojokidul Wiyono SH, Minggu (19/3), menyatakan bayi itu meninggal Sabtu malam (18/2) dan jenazahnya langsung dimakamkan malam itu juga. ''Sampai dimakamkan, bayi itu belum sempat diberi nama. Karena itu, pada upacara pemakamannya, dia hanya disebutkan dengan panggilan Setu karena dilahirkan pada hari Sabtu,'' jelas Sutarso. Seperti pernah diberitakan (Suara Merdeka,16 dan 17/2), istri Parmin, warga Dusun Kenteng Desa Ngadirojokidul Kecamatan Ngadirojo yang sehari-harinya lekat dengan kemiskinan itu melahirkan bayi perempuan. Sayangnya, kegembiraan tak sempat dirasakan keluarag itu karena putrinya ternyata menderita kelainan, yakni tidak memiliki dubur. Kenyataan itu cukup berat bagi Parmin, sebab penderita gagu dan lemah mental yang sehari-seharinya menjadi buruh panggul di Pasar Ngadirojo itu tak punya uang untuk mengobatkan anaknya. Atas inisiatif Ketua RT Sutarso bersama Kepala Desa (Kades) Ngadirojokidul, Wiyono, peristiwa itu segera dilaporkan kepada Bupati, sekaligus memohon bantuan agar bayi tersebut bisa segera dioperasi. Permohonan itu langsung disanggupi Bupati dan bayi tersebut segera diantar ke RS Dr Moewardi, Surakarta. Operasi akhirnya dilakukan tim dokter yang diketuai dokter Pujiastuti SPA, bertepatan pada hari kelima usia bayi itu. Tim dokter menyatakan bayi itu mengalami kelainan pada dubur yang disebut Extropia chloka. Saat menjalani operasi, bayi dengan berat 2,2 kg itu didiagnosis menderita neo past of ileustomy dan exisi omfalo cel dan sempat menjalani perawatan di ruang PICU (Perinatologi Intensive Care Unit). (P27-36n) |