logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 SALA
Line

Ki Gede Solo ''Gorok'' Leher Penonton

UNTUK meyakinkan bahwa golok itu tajam, kepada penonton diserahkan batu asah. Pamrihnya, penonton bersedia mengasahnya lebih tajam lagi. Ini yang dilakukan Ki Gede Solo, ketika mengawali demonstrasi ilmu kedigdayaan. Yakni demonstrasi menggorok leher tiga penontonnya dengan golok yang telah terasah tajam itu.

Golok itu pula serta-merta diiriskannya ke lengan tiga penontonnya. ''Mohon doa restu dari pengunjung semua agar permainan berbahaya ini dapat berjalan dengan baik,'' ujarnya. Adegan mendebarkan itu mengundang takjub seluruh hadirin yang memenuhi ruang pendapa Kabupaten Wonogiri. Namun mereka lega kembali setelah melihat ketiga penonton tersebut tidak terluka alias kebal.

Demonstrasi itu memeriahkan acara sarasehan Kejawen yang mengungkap tentang ilmu kanuragan dengan menyingkap tabir mengapa orang dapat kebal. ''Ini hanya sajian seni tradisional kanuragan. Kami bisa karena terbiasa. Ilmu ini dapat dipelajari siapa pun. Sumbernya bertumpu pada doa dan perkenan Tuhan,'' ujar Ki Gede.

Sebagai paranormal dari Paguyuban Paranormal dan Penyembuh Alternatif Surakarta (Papan Atas), Ki Gede Solo datang berombongan. Ikut pula pakar ilmu kanuragan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Pangakso Nagoro, pengasuh Perguruan Bima Sakti KRT Suwito Dipuro Gajahan, Ny Juwito, Ki Pramono, Ki Sumanto, Ki Hariyanto, Ki Suyadi, Ki Bambang Yuliono, dan Demang Endar Kristiono. Mereka juga membawa satu grup pemain kuda lumping.

Demonstrasi kanuragan Ki Gede, diawali dengan pementasan kuda lumping yang menyertakan aneka ragam adegan pamer kadogdengan seperti kebal dicambuk, makan api obor, makan kaca lampu neon, dan aneka gerak atraktif. Kemudian dilanjutkan dengan ritual jamasan, yakni membakar besi sampai merah membara, kemudian dijilat oleh lima anak buah Ki Gede, diteruskan dengan menarik mobil penuh penumpang dengan rambut.

Semua sajian itu terangkum dalam ilmu reog dor (kuda lumping), debus (kekebalan), dan kanuragan (kekuatan). Ki Gede sendiri menampilkan atraksi menghipnotis tiga penontonnya untuk ''menghilangkan'' satu buah pelir masing-masing, dan atraksi mendebarkan menggorok leher serta mengiris lengan penontonnya dengan sebuah golok.

Ilmu kanuragan seperti itu banyak dijumpai di berbagai daerah. Di Banten populer dengan sebutan debus, di Ponorogo, Jatim dikenal dengan sebutan warokan, di Jateng dinamai ilmu gemblengan, dan di daerah pesisiran disebut ilmu patrolan serta di Bali ada kecak. ''Semua ini tidak ada yang ganjil karena tetap masuk akal,'' ujar Ki Gede yang juga juru sembuh alternatif itu.

Dalam sejarahnya, ilmu kanuragan dahulu dipakai para Wali Sanga untuk syiar agama Islam. Sampai sekarang, masih banyak Kiai Langitan yang suka mengajarkan ilmu tersebut kepada para santrinya. ''Jadi bila ada ustad yang memberikan penilaian kirab keris sebagai tindakan musyrik, itu menunjukkan ilmune durung gaduk (ilmunya masih dangkal--Red),'' ujar Ki Gede.

Ketua Pameran Tosan Aji Drs Pranoto MM mengatakan, untuk memeriahkan pameran, setiap malam di pendapa kabupaten digelar sarasehan Kejawen. Selain menampilkan Ki Gede Solo, juga menghadirkan spiritualis Ki Sugeng Santosa Gondo, pimpinan Teosofi Indonesia dari Yogyakarta yang membeberkan ilmu gaib ngrogoh sukma sejating urip. Selain itu, juga menghadirkan Ki Sudibyo, pemegang rekor Muri mengambang enam jam di laut yang menyingkap tabir bahwa manusia dapat mengapung di air. (Bambang Pur-36n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA