logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 SALA
Line

Penderita Cerebalpalsi Berharap Bantuan

USIA Ema Ardiatama saat ini sudah lima tahun tiga bulan. Pada usia tersebut biasanya bocah sedang asyik-asyiknya bermain dan duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak (TK). Namun tidak demikian dengan putri kedua pasangan Sritomo (40 tahun) dan Sunarti (33 tahun) tersebut.

Gadis cilik itu hanya bisa telentang lemas di atas pembaringan. Tubuhnya yang sangat kurus tak mampu bergerak sama sekali sehingga ke mana-mana bocah itu harus digendong.

Ya, Ema memang berbeda dari bocah lainnya. Sejak lahir hingga sekarang, ia tak bisa bergerak seperti bocah lainnya hingga usianya sekarang menginjak lima tahun.

''Ema terlahir kembar, tetapi saudaranya meninggal sejak dalam kandungan, sedangkan ia lahir dengan tubuh membiru dan tidak menangis. Namun nyawanya tertolong oleh dokter yang membantu persalinan. Sejak itu, ia selalu membutuhkan bantuan kami,'' ujar Sunarti dengan nada prihatin.

Bocah itu sama sekali tidak bisa beraktivitas ataupun mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa menangis untuk meminta sesuatu kepada orang tuanya. Ia membutuhkan bantuan dari keluarganya untuk makan ataupun bergerak. Kaki dan tangannya juga terlihat sangat lemah. Bahkan untuk mengusir lalat yang hinggap di wajahnya, bocah itu tak sanggup melakukannya. Berdasarkan keterangan beberapa dokter, Ema menderita Cerrebalpalsi atau kelainan saat lahir yang disebabkan oleh virus.

Tak hanya kelumpuhan Ema yang menjadi pikiran Sunarti, tetapi juga kondisi lainnya. Misalnya kesulitan Ema ketika bernapas ataupun buang air besar. Napas Ema sering tersengal dan sesak serta berbunyi. Adapun untuk buang air besar, Ema juga mengalami gangguan sehingga tiap kali akan buang air besar ia harus diberi obat pencahar.

Pandangan bocah itu kosong, seolah-olah tak berpengharapan. Namun tidak demikian dengan Sunarti dan Sritomo. Keduanya tetap memiliki asa dan keyakinan bahwa putri kedua mereka bisa memperoleh kehidupan layaknya bocah normal. Berbagai daya dan upaya mereka tempuh, dari cara medis hingga pengobatan alternatif. Doa pun tak pernah putus mereka panjatkan.

Berbagai dokter yang direkomendasikan beberapa kenalan pun mereka datangi baik yang berada di Karanganyar, Solo, maupun Yogyakarta. Namun usaha tersebut belum memperlihatkan hasil. Demikian juga dengan tabib, pengobatan tradisional, hingga alternatif pun telah mereka coba.

''Saya juga diberi tahu supaya mandi air dari tujuh sumur yang berbeda tiap tengah malam selama 40 hari lalu berdoa agar segera diberi kemudahan untuk mengobati putri saya. Namun petunjuk tersebut belum datang,'' imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Upaya lain pun mereka lakukan, yakni keluarga yang tinggal di RT 2 RW 2 Sanggringan Kecamatan Jumantono itu memilih pengobatan dari puskesmas setempat. Sebelumnya mereka pernah juga mencoba memberikan terapi kepada Ema ke YPAC, tetapi setelah beberapa bulan, terapi itu dihentikan karena alasan ekonomi.

Rumah sederhana penjual mi ayam keliling itu nyaris tak lagi berisi. Hanya kursi kusam di sudut ruangan dan kasur yang diletakkan di lantai kamar mereka. Tak ada lagi yang bisa mereka gadaikan untuk membiayai pengobatan Ema. Sementara itu bocah tersebut menanti uluran tangan agar setidaknya bisa memperoleh terapi atau pengobatan yang memadai. (Evie Kusnindya-36n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA