logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 SALA
Line

Keuletan Pelukis Beton

Kreatif dengan Tangan Kiri

TANGAN kanan lelaki ini tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Jelas, sebagai seorang pelukis, kondisi seperti itu adalah mimpi buruk. Namun dengan semangat yang tak kenal menyerah, dia mencoba bangkit. Akhirnya tangan kirinya seperti mendapatkan kekuatan untuk melahirkan kembali karya-karya berupa lukisan realis.

Pascakecelakaan pada tahun 2002, Suryanto (demikian namanya) memang tidak menyangka dirinya akan bisa melukis lagi. Dengan keterbatasan anggota tubuh, khususnya tangan kanan yang tak lagi sempurna, dia sebenarnya telah bersiap mengubur dalam-dalam impiannya untuk terus menjadi seorang pelukis.

"Namun takdir ternyata berkata lain. Meski tangan kanan saya sudah tak bisa lagi memegang kuas, Tuhan kemudian justru memberikan kekuatan pada tangan kiri," ujar pelukis yang kini tinggal di Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kecamatan Pasar Kliwon, kemarin.

Begitulah memang perjalanan hidup perupa yang akrab disapa dengan Beton itu. Tragedi kecelakaan yang pernah menimpanya ternyata tak mampu memutus kesetiaannya untuk terus berkarya. Kanvas, kuas, dan cat minyak, kini masih tetap saja menjadi "teman"-nya pada saat sedang menggeluti dunia yang sekarang telah menjadi profesinya itu.

"Awalnya cukup sulit membiasakan tangan kiri untuk melukis, tapi lambat laun ternyata juga bisa. Bahkan tak beda jauh dengan tangan kanan saya ketika masih berfungsi," ujarnya.

Pameran Tunggal

Beton kemudian menunjukkan beberapa karya yang pernah dia hasilkan baik saat masih menggunakan tangan kanan maupun setelah menggunakan tangan kiri. Dari sejumlah karya yang terpajang di rumahnya, memang tak terlihat perbedaan kualitas. Semua tampak sama, meski dihasilkan dari tangan yang berbeda.

Beton mulai tertarik dengan dunia lukis sejak masih duduk di bangku SMA. Namun kemampuannya bermain kuas menjadi semakin terasah ketika selepas SMA dia memutuskan masuk ke Jurusan Seni Rupa di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

"Setelah lulus kuliah, dunia lukis sebenarnya juga masih belum menjadi profesi. Baru setelah menikah, saya mulai serius untuk menjadikan dunia tersebut sebagai pekerjaan," paparnya saat mengenang perjalanannya menjadi seorang pelukis.

Hingga kini, ratusan karya telah dihasilkan Beton. Sebagaimana aliran lukisannya yang realis, objek lukisannya kebanyakan juga bertutur tentang realitas kehidupan. Baik yang berwujud kehidupan manusia, alam, maupun objek-objek realis lainnya.

"Saat ini saya sedang banyak pesanan. Lihat saja lukisan-lukisan itu yang semuanya juga pesanan," ujarnya seraya menunjuk beberapa lukisan yang terpajang di dinding rumahnya.

Menurut pengakuannya, selama ini dirinya memang lebih banyak menunggu pesanan ketimbang menawarkan lukisannya kepada masyarakat luar.

Tak heran jika koleksi lukisannya juga tak banyak. Sebab setiap kali lukisannya selesai dibuat, saat itu pula langsung berpindah tangan ke pemesannnya.

Tentang pameran? "Pernah saya mengikuti beberapa kali pameran, tapi pameran bersama, bukan pameran tunggal. Sebenarnya ada niat untuk menggelar pameran tunggal, tapi rasanya saya harus menambah koleksi lukisan saya lebih banyak lagi." (Wisnu Kisawa-55n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA