| Senin, 20 Februari 2006 | SALA |
"Pengendalian Diri untuk Kelola Stres"KENTINGAN - Stres dapat dialami siapa saja, anak, remaja, orang dewasa, ataupun lanjut usia. Penyebabnya, menurut guru besar psikiatri UNS Solo, Prof Dr dokter Aris Sudiyanto SpKJ, bisa berasal dari fisik seperti cuaca atau kelembaban, mental emosional seperti frustrasi, konflik, atau krisis, dan sosial misalnya kehilangan pasangan hidup, tekanan ekonomi, problem pekerjaan atau masalah keluarga. "Biasanya penyebab mental bergabung dengan penyebab sosial sehingga disebut stressor psikososial," kata dia dalam seminar dan bincang sehat dengan tema "Hidup Bahagia Bersama Stres" yang digelar dalam rangka Lustrum VI UNS Solo di Student Center kampus setempat, Sabtu (18/2). Stressor adalah semua keadaan, kejadian, atau peristiwa yang dapat menimbulkan stres. Namun tidak semua stressor menimbulkan stres yang merugikan. Stressor ringan atau berlangsung singkat, menurutnya justru dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan mental seseorang. Pencegahan perlu dilakukan, di antaranya meningkatkan pemahamam terhadap stres atau membuatnya tidak berkepanjangan jika memang sudah telanjur terserang. Pada fase stres berat diterapkan pengobatan dan rehabilitasi. Pembicara lain, dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran UNS Dra Suci Murti Karini MSi melontarkan perlunya manajemen stres. Dengan pengendalian diri yang tepat, stres diharapkan tidak menimbulkan dampak negatif, namun justru berdampak positif. "Misalnya seseorang mengalami tekanan dalam pekerjaan, namun dengan stres itu dia justru termotivasi untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi untuk meningkatkan kehidupannya menjadi lebih baik pula," ujarnya. Tidak Perfeksionis Beberapa strategi dia sodorkan untuk mengelola stres. Di antaranya menghadapi masalah dengan sikap positif, tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan negatif, dan memikirkan apakah penyebab stres itu nyata atau hanya hal yang dibayangkan. Lalu, tidak bersikap perfeksionis, realistis dalam menerima kenyataan, dan membuat skala prioritas dalam beberapa hal. "Hindari reaksi berlebihan. Misalnya, mengapa harus benci bila sedikit tak suka sudah cukup. Mengapa harus mengamuk jika marah saja sudah cukup. Jaga irama hidup seimbang, ada saat kerja keras, ada pula saat santai. Lakukan olahraga sehat sesuai dengan usia dan minat serta relaksasi," katanya. Mudaris Muslim, dosen Konseling Lintas Budaya Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP UNS yang juga berbicara dalam forum itu memandang stres dari perspektif agama. Mengutip William James, seorang ahli psikologi, dia mengatakan, terapi terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Menurutnya, manusia yang benar-benar religius akan terlindung dari keresahan, kecemasan, dan selalu terjaga keseimbangannya serta selalu siap menghadapi segala malapetaka. "Manajemen stres dalam perspektif agama dimulai dari kemampuan untuk memanejemeni diri sendiri dengan membiasakan dan mengoptimalkan kemampuan berpikir, berzikir, bersyukur, bersabar, dan tawakal," ungkapnya. (D11-55n) |