| Senin, 20 Februari 2006 | SALA |
Target Rasio SMK dan SMA 50%
LOJI GANDRUNG - Direktorat Pembinaan SMK Departemen Pendidikan Nasional menyiapkan sejumlah program untuk mengembangkan SMK yang ada di kota itu. Dengan demikian, target rasio jumlah SMK dan SMA di Indonesia 50% : 50% bisa dicapai hingga lima tahun ke depan. Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Dr Djoko Sutrisno menjelaskan, pihaknya tengah melakukan promosi yang cukup bisa diterima masyarakat bahwa SMK tidak sekadar mendidik tukang. "Namun mendidik para teknisi masa depan, sebab mereka juga memiliki kesempatan untuk menjadi insinyur aplikasi pada masa mendatang. SMK itu ibarat pedang bermata dua, dia memberikan satu keahlian dan berkecerdasan, namun tetap terbuka untuk belajar di tingkat politeknik," kata dia, seusai penyerahan bantuan mobil pelatihan unit information communication technology kepada Wali Kota Surakarta Joko Widodo untuk diserahkan kepada Kepala SMKN II Drs Rahmat Sutopo MPd di Loji Gandrung, Sabtu (18/2). Sejumlah program pengembangan SMK yang telah disiapkan, kata dia, di antaranya program vokasi (basis), garmen, dan TV edukasi. "Dalam program vokasi, tahun ini sudah ditandatangani MoU antara Jerman dan Indonesia. Mudah-mudahan pada Maret ini akan ada teman dari Solo yang diundang ke Jakarta untuk menyusun program IGI tahap II," kata dia. Solo, kata dia, juga sudah memasuki area baru, yakni garmen. "Pembinaan SMK juga sudah menyiapkan keperluan standar kompetensinya." Mengenai program TV edukasi, selama beberapa waktu lalu sudah mulai diujicobakan. Secara resmi akan ada satu instalasi baru untuk memberikan semangat kepada kualitas pendidikan di tingkat sekolah menengah. "Pada intinya ada materi berstandar nasional, dan itu akan ditransfer secara langsung dari Jakarta. Yang pasti, akan dipandu rekan guru dari Surakarta ini." Program berikutnya, pihaknya akan mengembangkan sarana dan prasarana SMK yang dirasakan sudah semakin tua dan butuh perawatan. Dia juga mencoba melakukan penjajakan dengan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) agar bisa memberikan dukungan teknis kepada SMK lain. "Terutama untuk melakukan penggantian dan perawatan peralatan yang sekarang tak bisa digunakan lagi. Semangat dari Jakarta, bagaimana teknologi dan potensi yang kita miliki bisa mengembangkan sekolah kejuruan ini." Karena itu, Direktorat Pembinaan SMK mendukung dan siap melangkah bersama Pemkot untuk mewujudkan Surakarta sebagai Kota Vokasi (basis) dari aspek sekolah kejuruan dan aspek pendidikan teknik. "Saya kira, hal itu sudah dimulai dari ATMI dan Akademi Teknik Warga (ATW), hanya nanti bagaimana pembidangannya. Kalau bisa Solo ini bisa menjadi brand mark vokasi bagi kota lainnya." Soal program pengembangan SMK, aspek akuntabilitas menjadi persyaratan utama. Tiap satu langkah yang dilakukan di SMK, kata dia, harus bisa di pertanggungjawaban. "Sekarang audit akan semakin kencang termasuk mobil pelatihan ini nanti juga akan ditanya. Jadi bukan sekadar diinstall di Solo dan untuk wangun-wangun saja. Jadi harus betul-betul dioperasikan, termasuk sarana dan prasarana lainnya. Inilah yang kita masukkan dalam aspek akuntabilitas." (G13-55n) |