logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 SALA
Line

Ketahanan Pangan Rapuh

KENTINGAN - Ketahanan pangan nasional, menurut Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Ir Arman Moenek MEd, masih rapuh. Sejumlah kasus gizi buruk dan busung lapar yang dialami sebagian keluarga merupakan salah satu indikatornya.

"Kasus-kasus gizi buruk di masyarakat yang terekpose beberapa waktu lalu menunjukkan ketahanan pangan nasional masih rapuh. Lalu muncul juga bahan-bahan makanan yang tercemari formalin, boraks, dan sebagainya," kata dia dalam seminar nasional bertajuk "Menuju Indonesia Berketahanan Pangan dan Masyarakat Sadar Gizi" di aula Fakultas Pertanian UNS Solo, Sabtu (18/2).

Pembicara lain dalam seminar yang didukung Suara Merdeka itu di antaranya Kepala Pusat Pengembangan Pangan, Gizi dan Kesehatan Masyarakat UNS Prof Dr Ir Sri Handajani MS dan Joko Susilo dari Jurusan Gizi Poltekes Yogyakarta. Dalam forum yang diselenggarakan dalam rangka Lustrum VI UNS itu juga diresmikan terbentuknya Ikatan Mahasiswa Muslim Peduli Pangan dan Gizi (IMMPPG).

Arman mengemukakan, kondisi tersebut sudah berangsur-angsur membaik. Menurutnya, penduduk rawan pangan pada 2002 mencapai 52,33 juta orang (15,48 juta di antaranya sangat rawan). Lalu pada 2003 berkurang menjadi 44,31 juta orang (10,35 juta sangat rawan), dan pada 2004 menjadi 45,16 juta orang (10,83 juta sangat rawan). Lalu pada 2005 menjadi 68,48 juta jiwa, namun yang sangat rawan pangan tinggal 6,23 juta orang.

"Yang sangat rawan pangan itu masuk defisit berat. Ini yang perlu kita perhatikan. Dari sisi skor, kondisi di perkotaan lebih baik daripada pedesaan meski selisihnya tak begitu banyak," ujarnya kepada sejumlah wartawan yang mencegatnya.

PKK

Dia menandaskan, ketahanan pangan nasional dimulai dari ketahanan pangan keluarga. Karena itu, pihaknya merintis kerja sama dengan tim penggerak PKK pusat hingga daerah untuk menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya gizi.

"Ibu-ibu tani atau kelompok tani di desa diminta untuk menanami pekarangannya misalnya dengan sayuran, umbi, atau beternak itik dan ayam. Tujuannya untuk dikonsumsi keluarga sehingga gizinya meningkat," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga akan meningkatkan peran pos pelayanan terpadu (posyandu) dalam pembinaan hidup yang sehat. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pun sekarang terus digarap sehingga jika ada sebuah keluarga yang gizinya kurang, bisa segera diketahui.

Joko Susilo dalam paparannya mengungkapkan, masalah gizi buruk tak hanya dialami keluarga-keluarga miskin. Keluarga kaya pun bisa mengalaminya. "Kalau anak-anak orang kaya salah asuh, tentu bisa menderita gizi buruk. Misalnya bapak-ibunya sibuk, berangkat pagi, pulang malam. Anak diserahkan begitu saja kepada orang lain, bisa saja asal makan makanan instan yang tak punya nilai gizi tinggi."

Sementara itu Prof Handajani menekankan perhatian pada keamanan pangan dalam perkembangan pertanian secara global. Sebab, pangan dan gizi yang dihasilkan akan mewujudkan generasi berkualitas yang sangat diperlukan bagi pembangunan. (D11-55n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA