logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 RAGAM
Line

Penanggulangan Anemia Ibu Hamil

Tak Cukup dengan Suplementasi Besi Folat

PREVALENSI anemia di dunia sangat tinggi, terutama di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, dalam Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992 dilaporkan bahwa 63,5% ibu hamil dan 55,5% anak usia balita di Indonesia menderita anemia (kekurangan darah). Pada SKRT 1995 prevalensi anemia pada ibu hamil menjadi 50,9% dan pada anak balita 40,5%, namun dengan adanya krisis ekonomi yang sedang berlangsung prevalensi anemia meningkat lagi.

Survei pemetaan anemia di Jawa Tengah pada tahun 1999 menunjukkan prevalensi anemia yang tinggi pada anak usia di bawah lima tahun (balita) dan ibu hamil. Di beberapa kabupaten di Jawa Tengah bahkan mencapai angka di atas 80%.

Defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab anemia, tetapi apabila prevalensi anemia tinggi, defisensi besi biasanya dianggap sebagai penyebab yang paling dominan. Pertimbangan itu membuat suplementasi tablet besi folat selama ini dianggap sebagai salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mengatasi masalah anemia. Di Indonesia, suplementasi besi sudah lama dikerjakan secara rutin pada ibu hamil di Puskesmas dan Posyandu, menggunakan tablet yang mengandung 60 mg besi dan 0,25 mg asam folat. Sejauh ini hasil yang dicapai belum menggembirakan, terbukti dari prevalensi anemia pada ibu hamil yang masih tinggi baik ditingkat Nasional maupun di tingkat Jawa Tengah.

Penelitian yang pernah dilakukan untuk mengevaluasi program penanggulangan anemia, sebagian besar menitikberatkan pada aspek manajemen termasuk sistem distribusi tablet tambah darah, dan penerimaan ibu terhadap tablet tambah darah. Dengan demikian penyediaan tablet, sistem distribusi dan kepatuhan sasaran merupakan faktor yang dianggap paling berpengaruh dalam penurunan prevalensi anemia gizi besi.

Tidak mengherankan seringkali dalam "kepanikan" menghadapi prevalensi anemia pada ibu hamil petugas kesehatan kadang lebih suka menaikkan dosis suplementasi daripada memikirkan penyebab lain anemia pada ibu hamil.

Anemia, Anemia Gizi, Anemia Gizi Besi.

Anemia adalah suatu keadaan tubuh yang ditandai dengan defisiensi pada ukuran dan jumlah eritrosit atau pada kadar hemoglobin yang tidak mencukupi untuk fungsi pertukaran O2 dan CO2 di antara jaringan dan darah.

Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung.

Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, keracunan Pb dan sebagainya.

Anemia sebagai akibat kekurangan gizi disebut sebagai anemia gizi, yang sebagian besar dianggap sebagai akibat kekurangan besi atau asam folat. Anemia akibat kekurangan besi lazim disebut anemia gizi besi. Jangankan di lingkungan masyarakat awam, di lingkungan pakar kesehatan dan gizi di tingkat dunia pun sering terjadi kerancuan dalam menginterpretasikan data anemia.

Data prevalensi sebuah penelitian yang menilai anemia, dengan mengukur kadar hemoglobin, sering disebut sebagai prevalensi anemia gizi, anemia gizi besi dan bahkan defisiensi besi saja. Sebuah interpretasi yang kacau karena dengan pengukuran kadar Hb, yang didapat hanya data anemia. Untuk menilai defisiensi besi diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan lain yang lebih canggih dan mahal.

Perubahan Cara Pandang .

Ketika penulis berkesempatan meneliti prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil di sebuah Kecamatan di Kabupaten Demak (2002) menggunakan parameter baru yaitu serum transferin receptor (yang mampu menentukan defisiensi besi dan lebih canggih dari sekedar pemeriksaan Hb atau feritin), penulis mendapatkan temuan bahwa prevalensi anemia gizi besi dari antara ibu hamil anemia ternyata tidak setinggi yang diduga (59,3% kasus anemia).

Kalau dirunut lebih lanjut, hasilnya makin mengejutkan, karena dari seluruh kasus anemia tersebut, hanya 3,7% yang mengalami defisiensi besi murni. Lebih dari separuhnya (55,6%) mengalami defisiensi besi disertai defisiensi dari sekurangnya salah satu dari zat gizimikro lain yang diperiksa (seng, vitamin A, atau B12).

Padahal defisiensi pada zat-zat gizimikro tersebut dapat pula menyebabkan anemia secara independen tanpa disertai defisiensi besi. Lebih dari sepertiga kasus (37,0%) mengalami defisiensi sekurangnya salah satu dari zat gizimikro yang diperiksa (seng, vitamin A atau vitamin B12), namun tidak menderita defisiensi besi.

Satu kasus lagi (3,7%) tidak menderita defisiensi zat gizimikro apapun yang diperiksa (besi, seng, vitamin A, tembaga, vitamin B12 dan asam folat). Prevalensi ini hampir sama dengan prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil di negara sedang berkembang lain seperti Malawi (55,3%) dan Nepal ( 55,6%). Dengan de-mikian bisa dibayangkan berapa persen kasus anemia yang dapat ditanggulangi dengan suplementasi besi atau besi folat saja.

Temuan-temuan yang terserak di berbagai tempat dibelahan bumi ini menyebabkan para pakar anemia di dunia menjadi berfikir lain. Dalam pertemuan International Nutritional Anemia Consultative Group (INACG) 2002 telah dikemukakan bahwa perlu ada perubahan cara pandang terhadap anemia di negara sedang berkembang.

Data dari negara sedang berkembang di Afrika maupun di Asia menunjukkan prevalensi defisiensi besi pada subyek anemia hanya sekitar 50%. Selebihnya anemia terjadi karena berbagai penyebab, seperti defisiensi zat gizimakro (terutama protein) maupun zat gizimikro selain besi (vitamin A, seng, folat dsb), infeksi, malaria, kecacingan atau sebab-sebab lainnya yang harus diperhitungkan dalam upaya penanggulangannya. Dengan demikian INACG telah mengakui bahwa defisiensi besi bukan lagi penyebab yang paling dominan dari anemia.

Tablet Besi Folat

Berdasar cara pandang baru terhadap anemia, rasanya tidak bijak kalau kita masih sangat "pede" (percaya diri) pada "kesaktian" tablet besi folat. Stake holder kesehatan dan gizi di semua kabupaten/ kota semestinya mulai berfikir mengenai penyebab lain anemia pada ibu hamil andaikata suplementasi besi folat yang telah dikerjakan (dan dikelola dengan baik) selama ini tak kunjung memberi hasil yang memuaskan.

Tindakan panik dengan menaikkan dosis tablet besi bukan hanya sekadar tidak efektif (apabila penyebab anemia bukan defisiensi besi) tapi juga mengandung bahaya overdosis.

Dalam berbagai penelitian mutakhir, pemberian tablet besi yang berlebihan ternyata bisa menekan status seng tubuh, padahal seng adalah mineral yang tak kalah pentingnya dengan besi dalam memelihara kehidupan. Upaya lain seperti pemberantasan kecacingan, malaria, penyuluhan gizi untuk mengonsumsi makanan yang cukup dan seimbang, penyediaan air bersih dan sanitasi yang baik tetap harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Tak kalah pentingnya adalah upaya mengidentifikasi adanya defisiensizat gizimikro lain (yang ikut bertanggung jawab pada kejadian anemia) yang mungkin terjadi. Khusus perihal terakhir ini, sebuah kabupaten / kota tak perlu menyontek kabupaten / kota lain, karena masalah gizimikro telah berulangkali dibuktikan merupakan problema yang spesifik di setiap lokasi. Artinya jenis maupun derajat keparahan defisiensi gizimikro tak harus sama di wilayah yang berbeda. (11)

- Dr dr Hertanto W Subagio MS Sp Gizi Klinik, Program Studi Ilmu Gizi S1 Fakultas Kedokteran Undip


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA