logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 OLAHRAGA
Line

Masih Ada Peluang Kalahkan Malaysia

JAKARTA- Masih sangat terbuka peluang bagi tim Thomas Indonesia untuk mengalahkan Malaysia pada babak utama di Jepang, 28 April -7 Mei mendatang. Kekalahan pasukan Cipayung 2-3 dari Malaysia dalam semifinal babak kualifikasi di Jaipur, India, harus menjadi cambuk untuk segera melakukan evaluasi bagi tim Merah Putih.

''Malaysia merupakan ancaman serius. Peluang Indonesia merebut Piala Thomas 2006 bisa terhimpit oleh kekuatan Malaysia dan China. Ini untuk tingkat Asia. Belum lagi Denmark,'' ujar mantan Kabid Binpres PB Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Icuk Sugiarto.

Menurut dia, PBSI harus bekerja lebih keras jika ingin mewujudkan tekad meraih Piala Thomas 2006. Taufik Hidayat dan kawan-kawan mesti dimaksimalkan lagi persiapannya. Waktu dua bulan yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk terus menggenjot kemampuan fisik, teknik, dan strategi bertanding pasukan Merah Putih.

''Kita masih punya waktu dua bulan. Ini cukup untuk melakukan perbaikan kualitas permainan. Saya melihat selama ini persiapan anak-anak belum maksimal. PBSI harus lebih ketat menerapkan aturan,'' ujarnya.

Menurut dia, tim yang dimanajeri oleh Rudy Hartono itu terlihat masih belum maksimal pada saat melawan Malaysia, Sabtu (18/2) malam. Kekalahan 2-3 merupakan gambaran kalau tim Thomas Indonesia tidak seperti negara lain dalam menyiapkan atletnya.

''Persiapan yang dilakukan selama ini tidak optimal. Banyak penyebab terjadinya ketidakoptimalan itu. Pemain yang sudah berumah tangga belum seutuhnya tinggal di Cipayung. Mereka pagi latihan. Nyatanya siang pulang dan sorenya latihan kembali. Ini melelahkan mereka,'' ungkap juara dunia tunggal putra 1987 tersebut.

Icuk menambahkan, jika persiapan selama dua bulan berjalan maksimal, terbuka kemungkinan mencapai partai final sesungguhnya di Jepang.

Icuk memberikan saran agar PBSI melakukan pembinaan sektor putra. Sekarang ini keadaannya lumayan menguntungkan, karena beberapa pemain kunci masih bersedia bermain.

Mereka di antaranya Taufik Hidayat, Candra Wijaya, dan Sigit Budiarto. Ketiganya bisa dikatakan sudah sangat mapan secara ekonomi.

Dari kualifikasi Piala Thomas dan Uber di Jaipur India, 15-19 Februari ini, Indonesia hanya meloloskan tim putra ke putaran final di Jepang. Sedangkan tim Uber tersingkir.

Malaysia

Pada pertandingan Sabtu malam lalu, Simon Santoso gagal menjadi pemain kunci kemenangan bagi Indonesia atas Malaysia. Pemain asal Tegal ini kalah 22-24, 21-13 dan 17-21 dari Kuan Beng Hong. Malaysia unggul lebih dulu melalui Lee Chong Wei yang mengalahkan Taufik Hidayat dengan 21-14 dan 21-9 hanya dalam tempo 28 menit.

Indonesia menyamakan kedudukan 1-1 setelah Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto mengalahkan Koo Kean Keat/Chan Chong Ming 16-21, 21-14 dan 21-16. Sony Dwi Kuncoro sebagai tunggal kedua dikalahkan oleh Hafiz Hashim 10-21 dan 9-21. Markis Kido/ Hendra Setiawan menyamakan kedudukan setelah mengalahkan Mohd Tazari Fairuzan/Lee Woon Fui 21-13 dan 21-17. Kekalahan 2-3 dari Malaysia menyebabkan Indonesia harus menghadapi India untuk menentukan peringkat ketiga.

Beruntung mereka akhirnya bisa mengatasi perlawanan tim tuan rumah itu. Sony Dwi Kuncoro memetik angka pertama untuk tim Merah Putih setelah menang atas Chetan Anand 21-13, 21-18. Simon Santoso gagal mengatasi Arvindbath. Anak didik Mulyo Handoyo ini kalah 13-21, 15-21. Alven/Luluk mampu membuat angka bagi timnya setelah menang atas Thomas Sanave/Rupesh Kumar 21-12, 21-11.

Indonesia memastikan kemenangan melalui Markis Kido/ Hendra Setiawan. Pasangan masa depan Indonesia ini mengatasi permainan pasangan tuan rumah Jaseel Ismail/Vijay Diju 21-6, 22-20. Tunggal ketiga yang diisi oleh Markus Wijanu melawan Anup Sridar tidak dimainkan.

Korsel, Malaysia, Indonesia dan India telah memastikan diri lolos ke babak utama Piala Thomas. (D3-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA