| Senin, 20 Februari 2006 | MURIA |
Yang TerlupakanOleh: Irene Dinari - Siswi SMAN 1 KudusSALAH satu baris dari bait lagu kebangsaan bangsa Indonesia itu berbunyi, ''Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya.'' Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentu hapal betul akan lagu itu. Lantas apa hubungannya dengan penanggulangan bencana banjir? Paling tidak kalau kita menyimak tulisan teman-teman pada kolom Debat Pelajar Suara Merdeka (6 Februari 2006), bahwa penggundulan hutan, ilegal logging dituding sebagai biang dari maraknya bencana di setiap musim hujan, seperti banjir bandang dan tanah longsor yang memakan banyak korban dan penderitaan. Tudingan itu cukup beralasan, karena dengan ilegal logging menyebabkan hutan gundul. Gundulnya hutan menjadikan derasnya air hujan tak lagi mampu untuk ditahan -hutan tak lagi berfungsi sebagai reservoir ataupun peresapan- sehingga mengakibatkan banjir bandang di mana-mana. Serangkaian penyebab banjir itu jika dicermati ternyata ujung-ujungnya adalah ulah manusia. Dan, anehnya manusia penyebab bencana tersebut tak hanya mereka yang tak tahu karena tingkat berpendidikan rendah, sehingga menebangi hutan seenaknya. Namun, mereka yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan juga berbuat sama (white crime). Ilegal logging contohnya, tidak dilakukan oleh orang yang tingkat pendidikannya rendah. Lantas siapa yang salah? Dengan tidak berpretensi buruk pada penyelenggara pemerintahan -kalau kita simak lagu "Indonesia Raya"- pada baris ''bangunlah jiwanya, bangunlah badannya'', kita dapati adanya amanat bahwa seharusnya yang dilakukan pemerintah dalam membangun bangsa ini dimulai dari pembangunan ''jiwa'' terlebih dahulu. Tak seperti yang kita alami sampai saat ini, pembangunan fisik yang diutamakan. Karena itu, tidaklah aneh jika Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Gedung-gedung yang terhormat ternyata dihuni banyak tikus yang rakus. Bahkan yang berlabel agama pun tak kalah mengerikan, seperti dalam kasus penyalahgunaan dana abadi umat. Pertanyaannya, bukankah yang berlabel agama itu berkecimpung dengan urusan ''jiwa'' manusia? Ternyata hal itu bukan jaminan, karena boleh jadi agama masih sebatas pengetahuan, belum membumi sebagai tingkah laku sehari-hari. Semua itu terjadi langsung ataupun tak langsung, pendidikan ikut andil di dalamnya. Pendidikan yang hanya mengunggulkan salah satu aspek kecerdasan dengan memberikan porsi latihan soal-soal diyakini dapat menghasilkan orang yang cerdas, tetapi hati nuraninya gersang. Akibatnya, mereka tampaknya senang bila orang lain menderita. Masyarakat yang menderita dapat dijadikan peluang oleh mereka, seperti saat masyarakat kekurangan sembako, justru mereka melakukan penimbunan. Demikian juga yang terjadi pada diri para koruptor. Sebagai alternatif untuk menegakkan amanat lagu "Indonesia Raya" tersebut, ada banyak tulisan tentang EQ (emotional quotion) dari Daniel Goleman, SQ (spritual quotion) dari Danah Zohar, dan ESQ (emotional spritual quotion) dari Ary Ginanjar, kiranya penting untuk diwarnakan pada proses belajar-mengajar di kelas. Dengan kecerdasan emosional, orang akan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Dengan kecerdasan spiritual, orang akan merasa diawasi semua tingkah lakunya oleh Yang Mahakuasa, sehingga mendorong untuk berlaku jujur dan benar.(54s) |