logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 MURIA
Line

Warga Kecewa, Tak Bisa Lihat Wapres

SUASANA Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora yang biasanya sepi, tiba-tiba berubah menjadi ramai, Sabtu (18/2). Dengan mengendarai sepeda motor, ratusan warga datang dari berbagai desa sekitar menuju Desa Ngloram untuk melihat kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Namun keinginan mereka tidak terkabul. Sebab, aparat keamanan yang berjaga di tempat itu melarang mereka mendekat lapangan terbang, yang hendak didarati helikopter yang membawa rombongan Wapres. Warga harus rela berjejer di pinggir jalan. Warga juga tidak bisa melihat wajah Wapres, karena kaca mobil berpelat nomor RI-2 berwarna gelap dan tertutup rapat.

''Kalau tahu begini, lebih baik tidak usah datang ke sini,'' ujar Agus Sunarto (40), warga Desa Gadu, Kecamatan Sambong.

Agus mengaku datang bersama istri dan dua anaknya untuk melihat kedatangan Jusuf Kalla. Padahal, jarak rumahnya dengan Desa Ngloram cukup jauh, yakni sekitar 15 km. ''Ya, sekalian jalan-jalan. Maka saya ajak istri dan anak-anak. Sayang, kami tidak bisa melihat wajah Pak Kalla.''

Berdasarkan pemantauan, sebelum rombongan Wapres datang, di sepanjang jalan Desa Ngloram terlihat ratusan warga yang berkumpul. Kebanyakan dari mereka ternyata warga pendatang, meski sebagian di antaranya adalah warga setempat. Mereka dengan sabar menunggu kedatangan orang nomor dua RI. Pemandangan sepeda motor terparkir rapi di pelataran rumah warga dengan mudah ditemukan.

Pedagang Tiban

Banyaknya orang yang datang, membuat warga setempat menjadi pedagang tiban. Antara lain Sunarti (40). Ibu empat anak itu menjual makanan ringan. ''Jumat malam saya baru kulakan makanan ringan dan minuman dalam kemasan. Ternyata laku dijual, karena yang ingin melihat Pak Jusuf Kalla kebanyakan pasangan suami-istri dan anak-anaknya,'' katanya.

Hal yang sama juga dilakukan Sri Wahyuni (30). Sehari-hari dia memang berjualan di pasar. Namun khusus menyambut kedatang Wapres, dia memboyong dagangannya yang biasanya hanya tersimpan di rukonya. ''Lumayan, dagangan saya laku keras,'' ujarnya.

Dengan hanya berbekal meja panjang dan beberapa kursi, Sri Wahyuni dan Sunarti menggelar dagangannya tepat di halaman rumahnya.

Warga yang berkerumun di halaman rumah itu bisa dengan mudah membeli makanan dan minuman ringan serta rokok. ''Mungkin kalau lapangan terbang diaktifkan lagi, banyak warga yang datang. Tempat ini akan ramai. Warga di desa kami pun bisa menambah lapangan pekerjaan,'' kata warga desa setempat, Ahmadi (25).

Memang, lapangan terbang dengan panjang landasan pacu mencapai 1.000 meter dan lebar 20 meter tersebut sejak 1980 tidak difungsikan lagi. Padahal, menurut Karmani (53), warga sekitar, lapangan terbang milik Pusat Pendidikan dan Latihan Minyak dan Gas Bumi (Pusdiklat Migas) itu dahulu sering digunakan pejabat negara ataupun pengajar Pusdiklat sebagai tempat pendaratan pesawat ketika akan berkunjung ke Cepu. Banyaknya helikopter pejabat yang datang menyebabkan desanya menjadi ramai. Sebab, warga dari desa lain berdatangan ke desa tersebut. (Abdul Muiz-50s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA