| Senin, 20 Februari 2006 | MURIA |
Sekali Pulang, Sudah TerbujurKEPULANGAN seseorang dari negeri seberang, apalagi dengan status sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), tentu membersitkan sejumlah perasaan bagi keluarganya. Apalagi, jika yang dibawa dari negeri rantau tersebut adalah sebuah kisah sedih. Hal itu pula yang dirasakan Ruminah (30), yang Sabtu (18/2) kemarin menerima kedatangan suaminya, Subur bin Samitro (32), seusai bekerja tiga tahun di Malaysia. Namun, suami yang telah memberinya dua anak tersebut, Khuswatun Hassanah (14) dan Muklisin (10), kini kembali ke kampung halamannya, di RT 2 RW 6 Dukuh Ngelo, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus, tidak dalam kondisi hidup. ''Mas Subur meninggal di Malaysia karena sakit,'' kata adik almarhum, Sutrisno, yang mewakili kakak iparnya itu dalam memberikan keterangan, karena Ruminah belum dapat diajak bicara panjang lebar berhubung masih terpukul. Sutrisno pun menceritakan, saudaranya itu telah pergi ke negeri jiran sejak tiga tahun silam. Di tempat tersebut, katanya, dia bekerja sebagai buruh bangunan.''Tempat kerjanya di Ipoh. Saya juga ikut menyusul ke sana sekitar enam bulan lalu,'' ujarnya. Tiga tahun merantau, kakaknya itu bekerja pada seorang toke (penyalur tenaga kerja) bernama Haji Makmur. Untuk gaji yang diperolehnya, ungkapnya, sehari -seperti halnya dirinya- mendapat 40 ringgit atau sekitar Rp 100.000. Disinggung soal penyebab meninggalnya sang kakak, dia mengemukakan, almarhum seminggu sebelumnya memang menderita sesak napas. Selain itu, Subur juga mengaku pinggangnya sering sakit. Kambuhan Soal sakitnya itu, Sutrisno mengatakan, hal itu merupakan penyakit kambuhan yang dimiliki saudaranya. Yang jelas, selama menjadi TKI, kakaknya -juga 14 orang buruh asal Desa Karangrowo- selalu diperlakukan baik-baik oleh para toke dan pemilik proyek. ''Karena itu, kakak pun sempat dirawatkan ke rumah sakit di Ipoh delapan hari,'' ungkapnya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dicapai. Pada Rabu pukul 17:45, ayah dua anak itu mengembuskan napas terakhir. Hari itu juga, jenazahnya -dengan dana dari sang toke- dipulangkan ke Tanah Air, setelah sehari menginap di Jakarta.''Kakak dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya,'' katanya. Ditanya soal kesan-kesannya selama masih hidup, Sutrisno menyatakan kakaknya yang menjadi TKI dengan izin resmi itu, selalu baik dengan keluarga, saudara, dan tetangganya. Juga, meski tiga tahun tak pernah pulang -sekali pulang tinggal kenangan- setiap beberapa bulan sekali dia selalu berkirim uang kepada keluarganya. ''Uang itu dikumpulkan untuk membangun rumah,'' ungkap Sutrisno, yang turut mengantarkan kakaknya dari Malaysia hingga ke desanya. (Anton Wahyu Hartono-15s) |