| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
Dana SLT Rp 300.000 Ditukar Air KemasanZAENAL (50), warga RT 4 RW 6 Dusun Kelurahan Desa/Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (17/2) siang, seakan tidak percaya dengan apa yang baru dialami. Seluruh tubuhnya seolah tidak berdaya. Dia hanya bisa duduk dengan kedua kaki dijulurkan ke depan, di tengah jalan desa menuju rumahnya. Ya, pria yang memiliki tujuh anak itu baru saja tertipu. Dana subsidi langsung tunai (SLT) Rp 300.000 yang baru saja diterimanya raib dengan mudah. Dia hanya pulang dengan memanggul satu kardus air minum kemasan dan beberapa lembar kertas folio. "Uang itu rencananya digunakan untuk membeli buku sekolah anak saya," tutur Turiyah (45), istri Zaenal, Minggu (19/2) di rumahnya. Wanita yang bekerja sebagai buruh tani itu menuturkan, saat itu suaminya seperti orang tidak sadar. Kemarin, Zaenal sedang mencari eceng gondok di Rawapening. Turiyah menuturkan, setelah suaminya mengambil dana SLT di Kantor Pos Tuntang, dia didatangi seseorang yang tidak dikenal dengan mengendarai mobil. Setelah itu, suaminya diajak ke Salatiga. "Dia dijanjikan bekerja mengepel dengan gaji Rp 1 juta/bulan," ungkap Turiyah. Setelah sampai di Pasar Jetis Salatiga, Zaenal disuruh menunggu. Saat itulah, uang SLT Rp 300.000 dipinjam oleh orang tidak dikenal tersebut. "Dia seperti orang yang dihipnotis. Sebelumnya dikasih permen," ucap Turiyah. Menurut keterangannya, uang bantuan itu dipinjam sementara untuk membayar kekurangan barang belanjaan si penipu tersebut. "Setelah berjam-jam, suami saya baru tersadar jika ditipu," ungkap wanita itu sedih. Saat ditinggalkan penipu yang diperkirakan berkomplot tersebut, Zaenal hanya ditinggali satu kardus air minum dalam kemasan gelas plastik dan beberapa lembar kertas folio. "Katanya kertas itu untuk membuat lamaran kerja." Praktis, karena tidak lagi memegang uang, Zaenal celingukan seperti orang kebingungan. Akhirnya, dia pun meminta-minta uang kepada orang yang dijumpainya layaknya pengemis. (Rony Yuwono-37s) |