| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
Warga Muktiharjo Kidul Butuh Gerobak SampahSEMARANG- Gerakan kebersihan Djarum 76 Resik-resik Kutha Suara Merdeka, Minggu (19/2) kemarin disambut secara antusias warga. Mereka membersihkan lahan di tepi saluran Jalan Muktiharjo Raya, Kelurahan Muktiharjo Lor, Kecamatan Genuk. Kegiatan itu juga diikuti berbagai unsur seperti TNI, Polri, PKK, pelajar, dan aparat Pemkot hingga berjumlah lebih dari 200 orang. Seusai apel yang dipimpin Asisten Bidang Tata Praja Drs Sumargono, peserta menuju ke saluran di sebelah selatan Jl Muktiharjo Raya Kelurahan Muktiharjo Lor, Kecamatan Genuk. Sebagian di antara mereka kemudian mengeruk saluran itu menggunakan cangkul. Ada juga yang menggunakan garu untuk menarik tanaman liar dari saluran. Sebagian lagi, membabati rumput liar yang tumbuh di sepanjang tepi saluran anak Kali Tenggang. Sebelumnya, pemrakarsa Djarum 76 Resik-resik Kutha Suara Merdeka, memang memberikan bantuan berupa alat-alat kerja bakti seperti cangkul, skop, dan garu. Selain alat-alat itu, pemrakarsa juga memberi bantuan dana stimulan pada RW 2 Kelurahan Muktiharjo Rp 500.000 dan 50 bibit pohon mangga. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, pada kegiatan ini menurunkan dua buah begu. Satu di antaranya untuk mengeruk saluran tersebut dan yang lain untuk membersihkan Kali Tenggang yang melintas di Jalan Muktiharjo Raya. Beberapa peserta lain terlihat membersihkan sampah dan rumput di tepi rel KA di sebelah selatan saluran itu. Setiap kali ada KA yang akan lewat, beberapa peserta lain berteriak-teriak agar orang-orang yang berada di dekat rel menyingkir. "Sepur..., sepur... awas ada sepur." Butuh Gerobak Sementara itu, walau kegiatan dipusatkan di Muktiharjo Lor, warga Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan pun ikut bekerja bakti. Kegiatan itu bahkan sudah mereka lakukan sejak pukul 06:30, sebelum apel-apel Resik-resik Kutha dimulai. Mereka membersihkan tumpukan sampah yang ada di beberapa titik di sisi selatan rel itu. Sutarmin, Ketua RT 2 RW 9 Kelurahan Muktiharjo Kidul mengatakan, setelah dibersihkan tempat itu akan ditanami jagung. Dia mengakui, sampah tersebut dibuang warga, karena di sekitar lokasi itu tidak ada tempat pembuangan sementara (TPS). "Pemkot memang menyediakan kontainer sampah, tetapi letaknya jauh, di Perumnas Tlogosari," katanya. Karena itu, dia meminta Pemkot bisa memberi bantuan gerobak sampah kepada warganya. Jumlahnya pun tidak terlalu banyak, untuk satu RW Pemkot cukup membantu dua unit. Dia memperkirakan gerobak-gerobak itu sudah cukup untuk melayani enam RT, di mana setiap RT rata-rata dihuni sekitar 30 kepala keluarga. (G6-18) |