logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 SEMARANG
Line

Pengadaan Guru Bahasa Jawa Kewenangan Kabupaten/Kota

SEMARANG - Penanganan PNS, termasuk pengadaan guru Bahasa Jawa, guna mendukung pelaksanaan kurikulum muatan lokal di SMA, MA, dan SMK menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas P dan K Jateng, Drs Rodjikin MM, seusai sarasehan Kemauan Politik Pemerintah dalam Pelestarian Budaya Jawa di FBS Unnes Sekaran, Gunungpati, Sabtu (18/2). "Kami berharap, pemerintah kabupaten/kota terlibat aktif dalam pelestarian bahasa Jawa, termasuk di dalamnya memenuhi kebutuhan tenaga pendidik pelajaran Bahasa Jawa yang berkualitas," katanya.

Seperti diberitakan SM, Dekan FBS Unnes, Prof Dr Rustono, menyatakan, Jateng membutuhkan 2.144 guru Bahasa Jawa untuk SMA, MA, dan SMK guna mendukung pelaksanaan muatan lokal pendidikan di jenjang itu. Tapi ironisnya, dalam perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini, rata-rata kabupaten/kota hanya mengambil 3-4 orang sarjana pendidikan Bahasa Jawa.

Menyangkut kemauan politik Pemprov Jateng dalam pelestarian Bahasa Jawa, Rodjikin mengatakan, keputusan Gubernur nomor 589.5/01/205 tentang kurikulum 2004 mata pelajaran Bahasa Jawa untuk SD, SDLB, MI, SMP,MTs, SMPLB, SMA, MA, SMK menunjukkan secara politis pemerintah sangat intens dalam upaya pelestarian.

HBII

Dalam upaya mengatasi kekurangan guru untuk jenjang pendidikan SMA, pihaknya menempuh cara dengan memanfaatkan guru yang menguasi ilmu serumpun seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan guru bahasa lain untuk mengampu pula pelajaran Bahasa Jawa.

"Selain itu, memanfaatkan guru Bahasa Jawa di SMP. Upaya lain yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan tokoh masyarakat yang kompeten untuk memberikan pendidikan Bahasa Jawa di jenjang SMA," ungkap Rodjikin, yang menjadi pembicara bersama Ketua Pepadi Jateng, Drs H Sutadi; Ketua Swagotra, Drs Setyaji Pantjawidjaja; dan pembicara lain.

Dia menyatakan, pendidikan Bahasa Jawa menggunakan pendekatan sosiolinguistik, yakni pengajaran mata pelajaran tersebut disesuaikan dengan lingkungan masyarakat sekitar. Sarasehan yang digelar dalam kaitan menyambut peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) tingkat Jateng pada 21 Februari itu, dia menyampaikan, sampai saat ini tercatat 525 orang guru SD, 965 guru SMA, SMK, dan MA negeri/swasta telah memperoleh diklat, workshop, bintek, dan sosialisasi kurikulum ataupun pengajaran Bahasa Jawa.

Terkait dengan pengadaan buku teks, pihaknya mengakui, sampai saat ini jumlah buku pegangan pendidikan bahasa jawa jenjang SMA belum memadai. Hal itu terkait dengan proses pengesahan suatu buku memerlukan prosedur yang tidak mudah. (H7-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA