| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
Sebagian Besar Warga Keluhkan ISPAGENUK- Harian Umum Suara Merdeka bersama RS Telogorejo serta PT Indofood Sukses Makmur, Minggu (19/2) kemarin, kembali mengadakan bakti sosial berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis. Kegiatan yang digelar di Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk itu, dalam rangka peringatan HUT Ke-56 korannya di Jawa Tengah ini. Keinginan warga untuk memperoleh pelayanan kesehatan di tempat itu sangat besar. Ratusan orang yang sebagian besar adalah korban banjir berkumpul di balai kelurahan sejak sekitar pukul 07:00. Di antara mereka, ada pula orang tua dan anak balita. Bahkan, ada nenek-nenek yang sudah kesulitan berjalan, datang ke lokasi bakti sosial tersebut dengan naik becak. Oleh beberapa warga, nenek itu kemudian diangkat dan didudukan di ruang tunggu. Sekitar pukul 09:00, acara bakti sosial itu dibuka Camat Genuk, M Joesoef SH. Seusai pembukaan, dokter Agung Sudarmanto dari bagian bisnis development RS Telogorejo Semarang memberikan sosialisasi tentang penanggulangan demam berdarah. Dengan bahasa yang kocak, dia mengibaratkan Aedes aegypti adalah nyamuk ''priyayi''. ''Binatang itu selalu pakai lurik, hanya suka di tempat yang tak bersih, dan selalu menggigit di pagi atau sore hari,'' ungkapnya. Warga juga diingatkan selalu membersihkan tempat-tempat penampungan air. Keluhkan ISPA Sementara itu, salah seorang dokter yang bertugas dalam pengobatan gratis tersebut, dokter Kusnadi Rusli mengatakan, sebagian besar pasien yang berobat mengeluhkan gejala infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Penyakit seperti itu, menurutnya, biasa muncul saat pergantian musim. ''Mereka tidak hanya kami beri vitamin, tetapi juga obat-obatan lain yang mendukung penyembuhan penyakitnya,'' kata dia. Selain ISPA, ada juga seorang pasien yang positif menderita demam berdarah. Pasien tersebut sebelumnya berobat di puskesmas, tetapi ketika disarankan untuk rawat inap di rumah sakit tidak mau. Alasan yang dia kemukakan, karena tidak punya biaya untuk berobat. ''Tetapi saya pun tetap menyarankan dia mau dirawat di rumah sakit. Pasien ini bisa meminta surat dari kelurahan agar memperoleh pengobatan di rumah sakit milik pemerintah,'' imbaunya. Lurah Banjardowo, Sukir Dwijosiswoyo mengakui, hampir semua warganya berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka kebanyakan buruh pabrik atau buruh bangunan. Kelurahan itu kini dihuni sekitar 6.000 jiwa dan lebih kurang 2.000 di antaranya pada Januari lalu menjadi korban banjir. (G6-18s) |