| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
Ratusan Peziarah Hadiri Haul Ki Ageng PandanaranSEMARANG - Seperti tahun-tahun sebelumnya, tawasul yang merupakan puncak acara Haul Ke-410 Ki Ageng Pandanaran di Aula Makam Ki Ageng Pandanaran, kawasan Mugas Semarang, Minggu (19/2) siang, dihadiri ratusan peziarah. Mereka berdengan jumlah sekitar 500 orang berasal dari Semarang dan sejumlah kota di Jawa Tengah seperti Demak, Kudus, Lasem, Purwodadi, Kendal, Pekalongan, dan Jepara. Jamaah laki-laki yang duduk di aula mengenakan busana khas serbaputih, yakni jubah dan surban. Di dalam masjid dan pelataran dipadati jamaah perempuan. Tak beda dengan jamaah laki-laki, mereka mengenakan pakaian serupa, yakni mukena berwarna putih. Sesepuh Asysyahadatain, KH Masrukin (Kudus), dan Ketua DPW Jamaah Asysyahadatain Jateng, Prof Dr Mustafid M Eng, memimpin jalannya tawasul. Acara juga dihadiri H Ismiyadi, yang mewakili Gubernur H Mardiyanto, Habib Umar bin Ahmad (Subang), KH Hasan (Semarang), KH Yahya (Rembang), dan Ketua Yayasan Sosial Sunan Pandanaran, KH Soekardiyono BA (Semarang). Dalam sambutannya yang dibacakan Ismiyadi, Gubernur berpesan agar semangat Ki Ageng Pandanaran dalam berjuang terus diteladani dan diamalkan. Dengan demikian, cita-citanya bagi kemakmuran seluruh warga Semarang dapat tercapai. Keselamatan Menurut Takmir Masjid Pandanaran dan juru kunci makam, Agus Kris, tawasul yang dibacakan bukan semata-mata ditujukan untuk Ki Ageng Pandanaran, melainkan demi keselamatan seluruh umat. Demi keutamaan, doa tersampaikan melalui wasilah (perantaraan) para nabi, rasul, malaikat, wali, ulama, dan aulia. Haul ulama besar yang pernah menjabat sebagai Bupati Semarang itu diperingati tiap 17 Muharam. Namun, puncaknya selalu dilakukan pada hari Minggu yang paling berdekatan dengan tanggal tersebut. ''Minggu adalah hari libur, sehingga semua orang bisa mengikuti acara ini,'' katanya. Dia menambahkan, peringatan puncak haul tahun ini dimundurkan tiga hari, karena renovasi kompleks makam yang dilakukan pihak yayasan. Rangkaian haul dimulai sejak Minggu (12/2) malam, dengan acara buka luwur (penggantian kain tudung makam) Ki Ageng Pandanaran serta dua makam yang mengapit, yakni milik ayahnya, Syeh Maulana Ibnu Abdussalam, dan istrinya, Endang Sejanila. Selain itu, barang-barang pusaka peninggalan seperti tombak dan keris pun dicuci. "Jamaah dari pengajian lainnya melakukan ziarah pada pagi hari tadi. Mereka datang berombongan," papar Agus. Arus peziarah juga diakuinya meningkat sejak Jumat (17/2) lalu. (aim,H13-44h) |