| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
26% Kematian akibat Penyakit JantungSEMARANG - Tingginya angka kematian di Indonesia, 26 % di antaranya disebabkan serangan penyakit jantung koroner (PJK). Berdasar survei kesehatan rumah tangga nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir, angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat PJK adalah 16 %. Selang empat tahun kemudian, angka tersebut melonjak menjadi 26 %. Di Indonesia, kematian akibat PJK diperkirakan 53,5 per 100.000 penduduk. Tingginya angka tersebut, mengakibatkan PJK sebagai penyebab kematian nomor satu. "Rata-rata, orang yang terkena serangan penyakit jantung koroner usianya 40 tahun ke atas," ungkap dokter Andreas Agung W MKes SpPK, saat menjadi pembicara Semiloka Laboratorium Klinik di Wisma Katarina RS St Elisabeth, Sabtu (18/2). Selain Andreas, pembicara lain adalah dokter Purwanto AP SpPK, dokter Bambang Isbandrio SpMK, dokter Ika Pawitra SpPA, dan dokter Insrawijaya SpPA. Mengambil tema Pemeriksaan BNP, Small Dense LDL, Leptospira, dan Deteksi Kanker dengan Immunohistokimia, acara dihadiri 100 peserta. Mereka terdiri atas kalangan dokter, analis kesehatan, dan profesi laboratorium terkait di rumah sakit negeri ataupun swasta dan klinik se-Jateng dan DIY. Menurut Andreas, hasil penelitian SKRTN menetapkan banyak faktor risiko yang berperan dalam kejadian penyakit jantung. Di antaranya, pola hidup yang semakin berat, stres, tekanan darah, merokok, kolesterol HDL, diabetes melitus, dan obesitas. Bisa Diubah Kendati demikian, faktor tersebut cenderung bisa diubah atau bisa berkurang tingkat kerawanannya. Sementara yang tidak berubah, lanjut Andreas, lebih dikarenakan faktor umur, jenis kelamin, keturunan, dan faktor genetik. "Berdasarkan data, biasanya penyakit jantung koroner kerap ditemui pada masyarakat urban. Sebab, di suatu daerah yang pertumbuhan penduduknya terbilang pesat, sering ditemui beragam masalah kehidupan. Ini cenderung mendorong percepatan terjangkitnya penyakit jantung akibat stres," ujar dia. Andreas mengatakan, dalam setahun ditemukan setidaknya 400 hingga 500 kasus berbeda. Menurut dia, kebanyakan pasien jantung meninggal akibat serangan infak akut. Yakni, berhentinya jantung yang sifatnya mendadak, karena sumbatan di antena koroner. Sementara itu, Purwanto menjelaskan, gagalnya fungsi jantung adalah saat jantung mulai kehilangan kemampuan memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Dalam istilahnya, terdapat dua jenis gagal fungsi jantung yakni sistolik dan diastolik. Sistolik terjadi bila kemampuan jantung untuk kontraksi mulai menurun, sehingga berakibat penimbunan cairan. Sementara diastolik terjadi ketika jantung mempunyai masalah saat relaksasi. Hal ini, kata dia, akan menyebabkan cairan terbentuk pada kaki, tungkai dan bagian bawah. "Kejadian itu bisa berlangsung secara perlahan maupun kongestif, tergantung pada banyak faktor. Untuk itu, salah satu hal termudah menghindarinya adalah dengan mengubah gaya hidup dengan memperhatiakan pola makan dan berhenti merokok. Ini sangat penting," kata Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Undip itu. (fzm-18d) |