| Senin, 20 Februari 2006 | SEMARANG |
Peduli Anak Putus SekolahSEMAKIN besar tekanan ekonomi yang dialami warga masyarakat agaknya membawa dampak yang cukup besar pula terhadap anak-anak sekolah. Lantaran beban hidup orang tua mereka terlalu berat, banyak anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah. "Padahal banyak dari mereka yang tergolong anak yang cerdas,'' kata Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) DPD Jawa Tengah Asry Wibowo. Sebagai wujud kepedulian terhadap banyaknya anak putus sekolah, Iwapi memberikan pelatihan kepada beberapa anak tersebut. Kali ini yang menjadi sasaran adalah para santriwati pondok pesantren Roudhotul Quran Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu. Pemilihan podok pesantren itu bukannya tanpa alasan. "Di sini sebagian besar santriwati adalah usia produktif. Selain itu, dengan membekali para santri tersebut sebuah keterampilan, mereka dapat hidup mandiri,'' kata dia. Dalam kegiatan kali ini, ungkap Asry, Iwapi bekerja sama dengan Dinas P dan K Provinsi. Dalam hal ini, Dinas Pendidikan memberikan bantuan uang Rp 50 juta. "Iwapi menyediakan staf pengajarnya,'' ungkap wanita berambut ikal ini. Ada 25 santriwati yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajari cara membuat handycraft dan merangkai bunga. Untuk pembuatan handycraft, mereka diajari dari bagaimana mendesain, pola, memotong pola, menjahit, dan menyelesaikannya. Pada kursus merangkai bunga mereka belajar mengenai penyediaan tanaman hias dan cara-cara mengawetkannya. "Mereka juga diajari cara membuat pola dan teknik memotong serta menghias bunga,'' tuturnya. Pemilihan jenis keterampilan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Minat masyarakat terhadap barang-barang kerajinan saat ini semakin besar. Seusai menyelesaikan kursus tersebut mereka akan dibekali modal Rp 15 juta. Dengan uang tersebut diharapkan mereka dapat membuka usaha sendiri. Selain bantuan modal, Iwapi juga akan membantu memasarkan produk yang mereka hasilkan. "Kami akan memanfaatkan para relasi yang kita miliki,'' kata Asry. Melalui kegiatan ini, kata dia, Iwapi juga ingin mengubah citra buruk yang selama ini beredar di masyarakat. Banyak masyarakat yang menilai kegiatan Iwapi identik dengan hura-hura, padahal tidak demikian. "Hampir semua kegiatan yang kami lakukan justru bersifat sosial,'' jelas Asry. (Roosalina-18n) |