| Senin, 20 Februari 2006 | KEDU & DIY |
''Jangan Ada Penistaan Agama''YOGYAKARTA - Umat manusia tanpa terkecuali harus menghargai keberadaan kenabian Nabi Muhammad SAW yang sangat dimuliakan. Kendati kenabiannya tidak akan berkurang dengan adanya visualisasi dalam wujud kartun yang dipublikasikan beberapa media Barat termasuk Indonesia, penggambaran tersebut jelas melukai umat muslim. Untuk menyelesaikan persoalan itu, Pemerintah Indonesia melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI) sebaiknya mengajukan kepada PBB agar mewujudkan kesepakatan agar tidak ada pengulangan penistaan terhadap agama mana pun atas nama kebebasan pers. ''Bawa kasus tersebut ke PBB dan perlu kesepakatan agar tak lagi ada penistaan terhadap agama apa pun,'' tandas Dekan Fakultas Agama Islam UMY Dr H Yunahar Ilyas LC MAg ketika menjadi narasumber diskusi di Ruang Dekanat Fakultas Agama Islam, Kampus Terpadu UMY, kemarin. Menurut pandangannya, visualisasi Nabi Muhammad SAW sangat menyakiti umat karena sama saja dengan menghina pemimpinnya. Berdasarkan Alquran dan Alhadis yang disepakati para ulama (ijma), penggambaran perwujudan Nabi dalam bentuk apa pun dilarang. Alasannya, pertama, jika digambarkan sebaik-baiknya dengan semangat memuliakan dikhawatirkan menjadi pemujaan sampai akhirnya terjadi pemberhalaan dan kemusyrikan. Kedua, tidak ada seorang pun yang bisa memvisualisasikan secara sempurna. Ketidaksempurnaan bisa merendahkan citra Nabi. Yunahar menilai, reaksi keras dari umat muslim sedunia sangat wajar. Kesabaran yang mereka pendam sejak penerbitan pertama 30 September 2005 di Denmark hanya mengundang reaksi umat muslim lokal. Ketika hal sama terjadi di Norwegia, Oktober 2005, umat masih menoleransinya. ''Kesabaran umat muslim meledak ketika pada 10 Januari 2006, kartun Nabi Muhammad SAW kembali dimuat di Surat Kabar Jyllands-Posten, Denmark. Selain Denmark, negara lain yang kembali memuat ulang kartun tersebutm antara lain Norwegia, Prancis, dan Jerman,'' paparnya. Jangan Anarki Dia melihat ada upaya sengaja untuk memancing reaksi umat Islam agar jika terjadi aksi, cap anarki semakin melekat. Namun, umat Islam tidak mau terpancing dengan pengondisian tersebut. Pemuatan gambar tidak bisa diteloransi lagi meskipun umat tidak bertindak anarki. Alasan yang dipakai Denmark, yakni kebebasan pers, menurut pendapatnya tidak masuk akal. Apalagi sebelumnya kartun Yesus dan pembantaian Yahudi juga diajukan tetapi tidak dimuat karena takut menyakiti umat Kristen dan orang Yahudi. Karena itu, dia merasa aneh ketika kartun Nabi Muhammad SAW lantas dijadikan ganti. ''Gelombang demonstrasi di seluruh dunia sangat wajar tetapi tentu saja tidak harus diikuti dengan sikap anarki. Aksi damai memboikot produk Denmark juga wajar sebagai pelajaran bagi negara tersebut,'' tandasnya. (D19-39j) |