| Senin, 20 Februari 2006 | KEDU & DIY |
Ramuan Tradisional Kurang TerdokumentasiYOGYAKARTA - Pakar obat-obatan UGM Yogyakarta Prof Dr RA Oetari SU Apt mengemukakan, berbagai ramuan tradisional tercipta dan diwariskan secara turun-temurun namun kurang terdokumentasi dengan baik. ''Misalnya ada berbagai warisan ramuan jamu di lingkungan keraton, seperti di Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, Pakualaman, dan Kasultanan Yogyakarta.'' Hal itu dia kemukakan ketika menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi UGM di depan sidang Majelis Guru Besar UGM di balai senat kampus Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (16/2). Menurut keterangannya, di Keraton Yogyakarta sudah diterbitkan dokumen naskah tentang ramuan jamu, beberapa menggunakan kunyit (curcuma longa) dengan judul Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Banyak manfaat kunyit sebagai obat tradisional dengan ramuan-ramuannya, antara lain sebagai ramuan demam untuk anak, stimulan, karminatif, untuk infeksi jamur pada kulit, diare, dan sakit perut. Tumbuhan Asli Dia menyebutkan, kunyit termasuk suku temu-temuan dan merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara. Tanaman itu banyak tumbuh di Indonesia dan digunakan sebagai kosmetik, pewarna makanan, bumbu, dan pengobatan tradisional. Bagian kunyit yang dimanfatkan untuk pengobatan adalah rimpangnya. Dan, penggunaan rimpang kunyit telah mengalami banyak kemajuan dari bentuk pipisan, seduhan, dan sekarang ekstrak. Kelebihan bentuk ekstrak, selain lebih praktis penggunaannya, ampasnya tidak ikut terkonsumsi. ''Pada saat ini, kunyit makin populer secara internasional dan banyak diteliti para ilmuwan. Bahkan, sekarang banyak diteliti kurkumin yang mempunyai aktivitas biologi atau efek farmakologi yang luas, antara lain sebagai antiinflamasi, antiulser, antikoagulan, antifertilitas, antibakteri, antitumor, dan antikanker.'' (P12-39j) |