logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 KEDU & DIY
Line

Karpet Milik Keraton Solo Dilabuh di Laut Selatan

BANTUL - Satu truk karpet, paling banyak peninggalan zaman SISKS Paku Buwono X, bersama selambu dari makam raja-raja di Imogiri selain makam Sultan Agung serta layon kembang sisa sesaji di berbagai tempat, kemarin dilabuh atau dihanyutkan di Laut Selatan.

Ritual Labuhan pada bulan Sura yang tahun ini dilakukan Keraton Surakarta, kemarin berlangsung dalam suasana sederhana di Pantai Parangkusuma, Kasihan, Bantul, DIY dan melibatkan lebih kurang 500 kerabat dari Keraton Solo.

''Ujub-nya (inti tujuannya-Red), Labuhan kali ini untuk membuang rereget yang selama setahun sebelumnya ada di keraton. Pada bulan Sura yang suci ini, kami buang semua yang pernah mengotori keraton ke Laut Selatan ini. Mudah-mudahan, seterusnya kita semua diberi pepadang dan kawilujengan,'' harap GRAy Koes Moertiyah mewakili Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton yang bertugas menyampaikan dhawuh ketika dimintai komentarnya di lokasi ritual, siang kemarin.

Ritual lebih kurang satu jam itu dimulai dengan penyampaian dhawuh atau ngombang untuk menghanyutkan semua sengkala tepat pada pukul 10.00 oleh Nyai Mas Tumenggung. Hal itu dilakukan saat semua sudah membentuk formasi duduk bersila dan bersimpuh di bibir pantai menghadap ke selatan.

Didahului dengan doa meditasi sekitar 10 menit, aba-aba itu lalu diberikan Nyai Mas Tumenggung. Para abdi dalem yang ditugasi menyiapkan semua barang yang akan dilabuh, lebih dahulu menghanyutkan seancak sesaji pepak ageng lalu diikuti dengan penghanyutan aneka jenis barang yang dibawa dari Solo.

''Begitu selesai meditasi, disambut ombak yang bergulung sampai di depan kami. Sekotak berisi selambu, langsung diseret ke tengah dan saya tidak tahu entah ke mana. Mestinya ke tengah. Saya agak panik lalu bangkit dan mundur,'' ungkap GK Galuh Kencana yang pangkuannya ikut basah diterjang ombak, begitu dia membuka mata saat mengakhiri doa.

Ritual Labuhan yang diikuti 500-an kerabat dengan sejumlah kendaraan dari Solo, menurut keterangan GRAy Koes Moertiyah, sengaja dilakukan pada siang hari. Sepanjang pengalamannya, apalagi semasa ayahandanya SISKS Paku Buwono XII bertakhta, ritual macam itu lebih sering dilakukan pada malam hari mulai selepas mahgrib. Dengan demikian, sangat jarang bisa disaksikan wisatawan.

Menarik Perhatian

Kemarin, ritual dimulai pukul 10.00 dan berakhir sekitar 90 menit kemudian hingga menarik perhatian banyak orang yang pada siang kemarin berwisata di pantai itu. Meski tidak diumumkan resmi, peristiwa budaya itu bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal yang secara tidak sengaja menyaksikannya.

''Kalau soal waktu memang tidak harus dilakukan pada malam atau siang hari. Yang jelas, ritual ini masih dalam bulan Sura. Jika dilakukan malam banyak kendala dan tidak memberi keuntungan bagi orang lain, kenapa tidak dilakukan siang seperti sekarang? Sekarang inilah kami mencoba dan nyatanya lancar-lancar saja,'' papar GK Galuh.

Rombongan dengan sekitar 15 mobil berangkat dari Solo pukul 07.30 menuju ke Cepuri Parangkusuma, situs pesanggrahan peninggalan Sultan Agung di dekat pantai itu. Di situ, berlangsung upacara kecil dan GRAy Koes Moertiyah yang mewakili GPH Puger (Pengageng Museum dan Pariwisata) menyampaikan dhawuh kepada Nyai Mas Tumenggung untuk memberi aba-aba proses petugas Labuhan untuk berangkat.

Tak lama kemudian, prosesi mengusung sesaji dan barang-barang yang dilabuh berjalan dengan kaki telanjang di atas pasir, berarak-arak menuju ke bibir pantai. Ikut serta diusung prosesi dan akan dilabuh, terdapat kuku dan rambut SISKS Paku Buwono XIII sebagai contoh simbol barang-barang yang sudah tidak terpakai dan hanya akan menjadi rereget untuk segera dibuang.

Didahului doa dan meditasi beberapa menit, segera diberikan aba-aba untuk menghanyutkan. Selain Sinuhun Paku Buwono XIII tampak sejumlah sentana dan sedherek dalem seperti GK Galuh, GRAy Koes Handariyah, GRAy Koes Isbandiyah, GRAy Koes Sapardiyah, GRAy Koes Moertiyah, KP Satryo Hadinagoro, dan KP Edy Wirabhumi tampak ikut bermeditasi.

Meski dalam ritual Labuhan sering diyakini barang-barang yang dilabuh tidak akan kembali, kemarin tampak beberapa lembar karpet terbawa ombak kembali ke darat. Kembalinya karpet bahkan ada yang bertuliskan PB X langsung disambut warga sekitar pantai untuk diperebutkan sebagai bentuk ngalab berkah.

Bahkan tampak pula, beberapa orang yang merasa ikut mengentas karpet secara bersama-sama. Mereka lalu membagi karpet itu dengan memotong-motong menjadi beberapa bagian dengan harapan kerabat dekatnya bisa kebagian walau hanya secuil. (won,G19-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA