logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 INTERNASIONAL
Line

Buntut Demo Kartun Nabi Muhammad

Dubes Denmark Tinggalkan Pakistan

KOPENHAGEN - Denmark, Minggu kemarin, menyatakan duta besarnya di Pakistan untuk sementara pulang karena dia tidak bisa bekerja lagi. Hal itu dilakukan setelah protes-protes rusuh tentang kartun (karikatur) Nabi Muhammad SAW yang kali pertama dipublikasikan di Denmark. Kementerian Luar Negeri menyatakan warga Denmark di Pakistan yang membutuhkan bantuan sebaiknya menghubungi Kedubes Jerman.

"Dubes Denmark di Pakistan, Bent Wigotski, untuk sementara pulang ke Denmark karena hampir tidak mungkin bagi dia untuk mengerjakan tugasnya dengan situasi saat ini," kata kementerian itu dalam pernyataan di situsnya.

Lars Thuesen, Dirjen Konsulat Denmark , mengatakan kepulangan duta besar itu bukan karena masalah diplomatik.

Kemarin, polisi Islamabad (ibu kota Pakistan) menembakkan gas pemedih mata dan melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan beberapa kelompok pengunjuk rasa. Polisi juga menutup kota itu untuk menghentikan protes terhadap kartun nabi.

Paling tidak lima orang tewas dalam aksi serupa pekan lalu. Pakistan mengeluarkan protes diplomatik atas kartun yang dimuat di beberapa harian, khususnya koran Eropa, dan Jumat lalu menarik duta besarnya dari Denmark.

Minta Maaf

Dari Dubai dilaporkan, sebuah koran Arab Saudi memuat iklan penyesalan satu halaman penuh dari Jyllands-Posten. Jyllands-Posten adalah koran Denmark yang kali pertama memuat karikatur Nabi Muhammad SAW.

Harian Denmark itu menyatakan penyesalan yang mendalam. Koran itu sama sekali tidak meminta maaf atas pemuatan kartun itu pada September 2005. Namun, Jyllands-Posten malah meminta maaf atas kekacauan yang terjadi setelah kartun nabi itu dimuat ulang koran-koran Eropa Januari lalu.

"Gambar-gambar itu telah melukai perasaan jutaan muslim di seluruh dunia. Karena itu kami meminta maaf dan merasa sangat menyesal atas apa yang terjadi. Sebab, semua itu bukan keinginan koran ini," demikian pernyataan Jyllands-Posten berjudul "Permintaan Maaf" yang dimuat koran Asharq al-Awasat, kemarin.

Pernyataan itu ditandatangani oleh Pemimpin Redaksi Carsten Juste dan juga dimuat di situs internet Jyllands-Posten dalam bahasa Arab.

"Kami tidak bermaksud melecehkan atau menghina agama apa pun. Kami meminta maaf karena kesalahpahaman ini. Kami menegaskan kembali bahwa kami tidak bermaksud menghina siapa pun. Saya berharap, pernyataan ini dapat menyelesaikan kesalahpahaman itu," demikian pernyataan itu.

Langkah Jyllands-Posten itu dilakukan setelah sedikitnya 32 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka sejak Selasa lalu. Unjuk rasa memprotes kartun nabi di Libia, Nigeria, dan Pakistan diwarnai kekerasan dalam beberapa hari terakhir.

Di Nigeria

Di Nigeria, yang berpenduduk 140 juta jiwa itu jumlah warga Kristen dan muslim setara, 15 orang tewas di negara bagian Borno, dan satu lagi di negara bagian Katsina, kata juru bicara polisi Haz Iwendi.

Dia mengatakan 11 gereja dibakar di Borno dan tentara dikerahkan ke ibu kota Negara Bagian Maiduguri untuk melakukan penertiban.

Pertikaian menyangkut karikatur-karikatur juga memaksa dua menteri melepaskan jabatan mereka di Eropa dan Timur Tengah setelah 11 orang tewas di Kota Banghazi, Libia, dalam bentrokan antara polisi dan para pemrotes yang berusaha menyerbu konsulat Italia.

Menteri Reformasi Italia Robert Calderoll, yang memakai kaos oblong bergambarkan karikatur itu di televisi, mengundurkan diri setelah dia dituduh penyebab terjadinya aksi kekerasan di Libia.

Di Tripoli, Kongres Rakyat Umum memecat Menteri Dalam Negeri Nasser al Mabrouk Abdallah dan para kepala kepolisian di Benghazi, dengan mengatakan mereka menggunakan "pasukan yang tidak sepadan".

Kongres menyatakan mereka yang tewas itu sebagai "syuhada" dan mengumumkan Hari Minggu sebagai hari berkabung di seluruh Libia.(rtr-niek-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA