logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Februari 2006 BANYUMAS
Line

Wayang Dakwah Ki Subur

Sing Nanggap Bombong, Ora Kakehen Wong

''DENENG sindene ora gelungan, dalange ora blangkonan tapi kuplukan (Kok pesindennya tak bersanggul dan dalang tak memakai blangkon, tetapi kopiah),'' celetuk penonton saat kali pertama menyaksikan pertunjukan wayang kulit oleh dalang sekaligus dai Ki Subur Widadi, baru-baru ini.

Mereka makin heran saat menyaksikan betapa penampilan dalang dari Karanglewas, Banyumas, itu berbeda dari kebanyakan lain. Perbedaan menyangkut waktu pementasan, pakaian, perangkat musik, dan isi cerita.

Dalang yang juga anggota DPRD dari PAN itu hanya mendalang selama tiga jam, pukul 21.00-24.00. Jadi setelah menonton wayang itu, penonton tak perlu membolos kerja atau sekolah keesokan harinya.

Dalang, niyaga (penabuh gamelan), dan pesinden tak berpakaian adat Jawa. Namun para awak pria berbaju koko dan berpeci, sedangkan perempuan pesinden berjilbab.

Perangkat gamelan yang mereka bawa pun cuma gender, rebab, dan kendang. Namun Ki Subur membawa alat tambahan, organ elektronik. Organ itu diprogram, sehingga bisa menggantikan fungsi gambang, gong, bonang, dan saron. Dalam pertunjukan, musik yang terdengar hampir tiada beda dari gamelan lengkap.

Dengan perangkat ringkas itu, personel pun berkurang banyak dibandingkan dalang lain. Ki Subur hanya ditemani sembilan orang. Padahal, awak pertunjukan wayang kulit biasanya 20 orang. Penciutan personel membuat tarif pertunjukan bisa ditekan. Untuk sementara dia memasang tarif antara Rp 2,5 juta dan Rp 3,5 juta.

Personel sedikit juga membuat tuan rumah bisa berhemat. Ketika nanggap wayang kulit, pengeluaran tak hanya untuk seniman, tetapi juga berbagai uba rampe dan hidangan.

Dasar seniman, soal penghematan itu pun jadi bahan guyon dalam pementasan. Ki Subur menyampaikan guyonan itu lewat tokoh Petruk. Salah satu punakawan itu mengatakan, ''Pak-pak-pong pak-pak-pong wudele bolong. Sing nanggap atine bombong, nanggap wayang ora kakehen wong (Pak-pak-pong pak-pak-pong pusar berlubang, hari penanggap senang, awak wayang tak terlalu banyak)." Penonton pun tertawa.

Ketika tampil di Sidabowa, Patikraja, dan Pendapa si Panji, beberapa waktu lalu, Ki Subur membawakan lakon Semar Medar. Dalam kisah berbau dakwah itu, dia menyampaikan banyak ayat Alquran beserta artinya dalam bahasa Jawa di sela-sela cerita. Sesekali dia membalikkan tubuh, menghadap ke penonton, saat menyampaikan materi pengajian.

Dalam pertunjukan itu tetap ada adegan jejeran, Limbuk Cangik, perang, gara-gara, tayungan, dan tancep kayon. Ki Subur menuturkan sedang berdakwah dengan media wayang kulit. (Budi Hartono-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA