logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 18 Februari 2006 NASIONAL
Line

Gustavo Hernan Ortiz

Bertanding dengan Bekal Kasih Sayang


BERGABUNG: Thomas Alexandro Ortiz, anak pertama gelandang PSIS Gustavo Hernan Ortiz, berada di tengah-tengah tim Mahesa Jenar saat berfoto bersama menjelang pertandingan melawan Sriwijaya FC pada 12 Februari lalu di Stadion Jatidiri. (40j) SM/Budi Winarto

Banyak cara untuk memotivasi diri. Gustavo Hernan Ortiz, playmaker PSIS Semarang misalnya, memanfaatkan kedekatannya dengan sang anak, Thomas, untuk membangun semangat. Suara Merdeka melaporkan bagaimana Ortiz berjuang dari satu tim ke tim lain dengan terus bersama buah hatinya.

LIBUR latihan selama empat hari usai menjamu Semen Padang, dimanfaatkan gelandang serang PSIS, Gustavo Hernan Ortiz, untuk berkumpul dengan keluarganya. Bagi eks pemain klub Ferro Carril Oeste Argentina itu, waktu libur sangatlah berharga.

Maklum, jika pertandingan kompetisi Liga Djarum Indonesia 2006 sudah dimulai lagi, kesempatan bertemu dengan istri dan anaknya sangat kurang.

Padahal, pemain kelahiran Buenos Aires, 10 Oktober 1977, itu sangat sayang kepada anaknya, Thomas Alexandro Ortiz yang baru berumur 1,5 tahun. Dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan Thomas bersama istrinya, Sabrina Elizabeth Herrea Bogado, yang tinggal di apartemen sekitar Hotel Patra Jasa. Saat ini, anak yang lahir 24 Agustus 2004 itu sedang lucu-lucunya.

"Thomas selalu membuat saya kangen. Dia anak yang lucu dan menyenangkan," ungkap Ortiz.

Rasa sayangnya kepada Thomas diperlihatkan pada saat PSIS berlaga melawan Sriwijaya FC, 12 Februari lalu di Stadion Jatidiri. Sebelum pertandingan dimulai, pemain yang pernah membela PSPS Pekanbaru dan Persita Tangerang ini sempat membawanya masuk ke lapangan. Dengan memakai kaus khas PSIS warna biru, Thomas berjalan di samping ayahnya dan berjejer bersama pemain Mahesa Jenar lainnya menghadap penonton. Saat foto bersama pun, dia ikut berada di tengah-tengah pemain.

"Saya selalu ingin membawanya ke stadion saat pertandingan. Itu biasa dilakukan pemain di Argentina. Di Indonesia, itu pernah saya lakukan saat membela Persita."

Motivator

Sejauh ini, Thomas memang senang diajak ayahnya berada di antara pemain dan riuh suporter Mahesa Jenar di Stadion Jatidiri. Tak heran, dalam setiap pertandingan kandang, Thomas tidak pernah absen melihat aksi sang ayah yang wajahnya mirip pemain timnas Argentina, Juan Pablo Sorin ini.

Kehadirannya di stadion bersama sang ibu, membuat semangat dan motivasi bertanding Ortiz kian berlipat. Dia ingin memperlihatkan permainan terbaiknya dan mencetak gol. Seperti kala mencetak gol penentu kemenangan dalam pertandingan lawan Sriwijaya FC.

"Jika dia dekat dengan saya, rasanya tenang dan senang. Itu memotivasi saya untuk bermain lebih baik lagi. Saya ingin membuat dia bangga," katanya. "Saat berada di luar kota untuk pertandingan tandang, saya selalu meneleponnya sebelum bertanding."

Meski sering membawanya ke stadion, bukan berarti Ortiz akan memaksa Thomas untuk mengikuti jejaknya sebagai pemain jika sudah dewasa. Semua diserahkan kepada sang buah hati untuk menentukan pilihan. "Saya memang ingin dia jadi pemain sepak bola. Namun, itu tergantung keinginannya sendiri jika sudah besar. Saya tidak mau memaksanya."

Hamil Lagi

Bukan hanya Thomas yang membuat Ortiz bahagia kala membela Mahesa Jenar musim ini. Kehadiran Sabrina pun menambah ketenangan hatinya. Kebahagiaan pemain yang punya tinggi badan 173 dan berat badan 70 kg itu bertambah dengan kehamilan istrinya yang tengah mengandung satu bulan anak keduanya.

Ekspresi kegembiraan tersebut diperlihatkan saat membobol gawang Ferry Rotinsulu (Sriwijaya FC) di Stadion Jatidiri beberapa waktu lalu. Usai mencetak gol kedua PSIS, Ortiz berlari ke pinggir lapangan menuju bench Mahesa Jenar. Di depan pemain cadangan, pelatih dan manajemen, dia mengayun-ayunkan kedua tangannya di depan dada seperti menggendong bayi. Gerakkannya diikuti Emmanuel de Porras dan pemain PSIS lain. Itu gol ketiganya musim ini, yang dipersembahkan khusus untuk sang istri yang sedang hamil.

Ingin anak laki-laki lagi? Ternyata tidak. Baginya, memiliki Thomas sudah cukup. Dan, kini dia menginginkan anak perempuan. Istrinya, Sabrina, pun juga demikian. Namun kalau yang lahir nanti laki-laki lagi, tidak masalah.

"Istri saya ingin perempuan. Semoga dikabulkan Tuhan," harapnya. Setiap kali bergabung klub Liga Indonesia, seperti PSPS Pekanbaru dan Persita, Ortiz memang selalu membawa Sabrina dan Thomas. Mereka tinggal bersama menyewa rumah atau apartemen. Hal itu membuat urusan makan tidak menjadi masalah baginya. Pasalnya, sang istri pandai memasak makanan Argentina. Kalau pun terpaksa makan di luar, mereka lebih sering menuju mal untuk makan pizza. Kebetulan, itu merupakan makanan kesukaan Thomas. (Budi Winarto-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA