logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Februari 2006 SALA
Line

Tak Semua Buruh Gendong Menerima Bantuan

WAJAH sejumlah buruh gendong Pasar Legi Rabu (15/2) siang kemarin terlihat berseri-seri, seusai menerima sepaket bantuan bahan pokok dari Pemkot Surakarta. Mengenakan kaus biru tua, mereka langsung mendekap erat bungkusan kantung plastik hitam berisi beras 2 kg, gula pasir 1 kg dan sejumlah bahan pokok lainnya itu.

Namun di sudut lain, ratusan buruh gendong lainnya hanya bisa menggigit jari. Seakan ingin mendekat, namun mereka cukup sadar diri lantaran tidak mengenakan seragam kaus biru tua seperti yang dikenakan rekannya sesama buruh gendong.

''Kami nggak dapat girik (kupon), sehingga kami tidak boleh dapat paket itu,'' kata Suwarni, salah seorang buruh gendong yang melihat dari jauh pelaksanaan pembagian bantuan bahan pokok di lantai dua Pasar Legi, siang kemarin.

Memeringati Hari Jadi Kota Solo ke-261, Pemkot membagikan 1.700 paket bahan makanan pokok kepada sejumlah warga, khususnya dari kalangan bawah. Di antaranya 98 buruh gendong Pasar Legi, 67 buruh gendong Pasar Gede, 200 pengamen jalanan, 735 petugas kebersihan dari Dinas Kebersihan Pertamanan (DKP), 385 petugas kebersihan pasar, petugas kebersihan taman makam pahlawan, 228 anggota Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pinggiran (PPAP) Seroja, panti asuhan Yatim Putri Aisyiyah dan Panti Wreda Darma Bakti Kasih.

Wali Kota Surakarta Joko Widodo secara simbolis menyerahkan bantuan itu di lantai dua paling timur Pasar Legi. Selanjutnya, bantuan itu diserahkan kepada perwakilan organisasi untuk dibagikan kepada anggotanya.

Khusus untuk Pasar Legi, yang berhak mendapatkan paket bantuan hanyalah buruh gendong yang tergabung dalam SPTI (Serikat Pekerja Transport Indonesia). Dari 300 lebih buruh gendong yang ada di Pasar Legi, hanya 98 buruh yang terdaftar dalam organisasi tersebut.

''Kami sebenarnya ingin seluruh buruh bergabung dalam SPTI Solo, karena organisasi ini terbentuk untuk mewadahi aspirasi dan mengakomodasi kepentingan mereka. Namun karena sebagian besar tidak mau, ya sudah,'' kata Darji, Koordinator SPTI.

Bukan hal yang aneh memang, bila buruh gendong yang tidak terdata itu ingin mendapatkan bagian.

Dengan pendapatan yang tidak menentu di tengah persaingan yang kian ketat akibat munculnya buruh gendong baru, bantuan itu dirasa sangat berarti. (Anie R Rosyidah-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA