| Kamis, 16 Februari 2006 | MURIA |
Megawon, Desa Sentra Pembuat Sangkar BurungBERGELUT dengan usaha pembuatan sangkar burung sudah dilakoni Wakiran semenjak 1974. Bertempat di RT 2 RW 1 Dukuh Wungu, Desa Megawon, Kecamatan Jati, dia bersama dengan lima orang pekerjanya menghasilkan kurang lebih 20 sangkar dalam setiap hari. "Januari hingga April adalah bulan-bulan paceklik bagi perajin sangkar burung," ujarnya. Pada masa itu, permintaan sangkar burung tak lebih dari 20 buah/bulan. Berbeda jika pasaran tengah ramai, penjualan sangkar burung buatannya mencapai 300 buah/bulan. Banyaknya permintaan terkadang membuatnya kewalahan melayani pesanan pembeli yang berasal dari Semarang, Weleri, Kendal, Pekalongan, Tegal, dan Brebes. Harga sangkar Rp 8.000-Rp 25.000/buah. Disesuaikan dengan ukuran. Untuk sangkar ukuran 27 cm dengan tinggi 43 cm harganya Rp 8.000. Ukuran 32 cm tinggi 52 cm (Rp 15.000), ukuran 35 cm tinggi 55 cm (Rp 17.500), dan ukuran 40 cm tinggi 58 cm (Rp 25.000). Selain sudah tersedia ukuran dan bentuk yang standar, dia juga menerima pesanan dari pembeli. "Itu harga yang sama sebelum subsidi BBM dicabut. Seharusnya harga sangkar burung buatan kami naik. Namun kami kesulitan untuk menaikkan, karena produk kami bisa tidak laku," ungkapnya. Kenaikan harga BBM mengakibatkan harga bahan baku menjadi naik. Kayu jati sisa pembuatan mebel dari Jepara naik hingga 100%, dari Rp 250/kg kini mencapai Rp 500/kg. "Kondisi tersebut telah memukul kami. Hingga kini, kami hanya dapat bertahan." Rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) akan mengakibatkan usaha Wakiran semakin dalam posisi sulit. Sebab sejumlah kegiatan produksi, seperti pengeboran dan penghalusan mempergunakan peralatan yang bertenaga listrik. "Selama ini kami dalam posisi bertahan. Akan tambah sulit jika biaya produksi kami membengkak, sementara harga jual sulit naik karena daya beli masyarakat menurun," tegasnya. Di desa dengan luas 142 ha itu, terdapat tak kurang 100 perajin sangkar burung. Menurut Kepala Desa Megawon, Suwandi, para perajin terkonsentrasi di Dukuh Waru. Meski demikian, di tiga dukuh lain masih ada perajin sangkar burung, meskipun berjumlah tak sebanyak yang ada di Dukuh Waru. "Pihak kami hanya dapat memfasilitasi kebutuhan dari perajin, termasuk permodalan. Tetapi kondisi yang ada, jika diberi suntikan modal, mereka kesulitan dalam pengembaliannya." (Satryani Kartika Ningrum-50s) |