| Kamis, 16 Februari 2006 | MURIA |
"Kula Mung Pengin Ngalap Berkah..."SAMBIL menyandarkan kepalanya di salah satu saka dalam ruang makam Sunan Muria, Siswiyati (40) berulang-ulang mengeluarkan doa dari mulutnya. Di samping dirinya, sang suami, Supriyadi (46), juga melakukan hal senada. Keduanya memanjatkan doa kepada Illahi di dekat makam salah satu Walisanga itu. Warga RT 3 RW 2 Desa Watusogo, Kecamatan Jatirogo, Tuban, Jawa Timur, Selasa (14/2), berbaur dengan ratusan peziarah lainnya yang memadati petilasan Syekh Umar Said di desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Saat itu di lokasi yang berada di kaki Gunung Muria tersebut dilakukan upacara ganti luwur sekaligus haul Sunan Muria. Bagi pasangan suami istri tersebut, kehadiran mereka ke tempat berhawa sejuk itu adalah kali keempatnya. Pertama, ketika Supriyadi didera komplikasi gula darah dan tifus yang telah menggerogoti kesehatannya selama dua tahun. "Ada wangsit supaya saya minum air gentong peninggalan Njeng Sunan Muria," akunya. Karena itu, berdua mereka akhirnya mendatangi makam sang Sunan dan berdoa kepada Tuhan di tempat tersebut. Akhirnya, doa mereka pun dikabulkan. Enam bulan setelah minum air tersebut, kata dia, penyakit menahunnya itu pun berangsur-angsur sembuh. "Akhirnya setiap tahun saya selalu sempatkan ke sini untuk ngalap berkah," katanya. Lain lagi penuturan Supoyo (50), warga Lampung yang merasa tak sreg bila tidak menyambangi dan berdoa di dekat makam Sunan Muria. Perjalanan ratusan kilometer dari tempat asalnya, rela dia lakukan untuk mendapatkan berkah dari salah satu penyebar agama Islam di Nusantara tersebut. Selain itu, dia juga mengaku "ketagihan" minum air dari mata air Sendang Rejasa yang kemudian dialirkan ke gentong peninggalan sang Sunan. Menurut kepercayaan yang diyakininya, air dari gentong tersebut akan memberikan berkah kepada siapa saja yang meminumnya. "Saya memang memercayai hal itu," ujarnya. Sementara itu, salah satu juru kunci di tempat tersebut, Sartono, mengungkapkan, apa yang dikemukakan warga tersebut memang telah berlangsung sejak zaman dahulu. Beberapa pengunjung yang dia temui, ada yang telah puluhan kali mendatangi makam sang Sunan, terutama pada saat prosesi ganti luwur atau haul seperti saat ini. Namun, kata dia, jumlah pengunjung pada tahun ini dia rasakan tak seramai tahun lalu. "Pada tahun lalu, peziarah sampai memenuhi halaman depan masjid untuk antre memasuki makam Sunan Muria," ujarnya. (Anton Wahyu Hartono-54n) |