| Kamis, 16 Februari 2006 | MURIA |
Di Balik Pembunuhan Istri dan Mertua (2-Habis)Kalut Rumah Tangganya Tak HarmonisTIDAK bisa disalahkan jika awam ataupun petugas masih terheran dengan apa yang dilakukan oleh Jimat, warga Dukuh Telapak, Desa Tempurejo, Kecamatan Bogorejo. Sebab, laki-laki yang saat ini berstatus tersangka pembunuh istri dan mertuanya itu terkesan begitu tenang seusai membunuh. Dia langsung menyerahkan diri kepada petugas dan mengakui semua perbuatannya, termasuk dia juga sudah siap dengan sanksi hukum yang akan diterimanya. Terkait dengan hal itu pula, tidak bisa disalahkan jika polisi berencana memeriksakan Jimat ke psikiater. Minimal diharapkan lewat saksi ahli akan diketahui bagaimana sebenarnya kondisi kejiwaaanya. Meski demikian, untuk sementara polisi menyimpulkan pelaku berbuat seperti itu karena dia kalut akibat rumah tangganya tidak harmonis. ''Dia itu kalut, mertuanya sering ngompori istrinya agar menjadi wanita nakal. Akibat provokasi tersebut, belakangan ini istrinya pernah minta cerai dan sering pamitan akan pergi jauh,'' tutur polisi. Kepada Suara Merdeka, tersangka juga pernah mengatakan, dirinya memang dendam kepada istri dan mertuanya. Menurut dia, istrinya diperkirakan sudah menyeleweng akibat dipengaruhi mertua. ''Saya memang tidak mempunyai bukti, tetapi menurut perkiraan saya dia sudah tidak benar,'' akunya. Sejumlah tetangga dekat di Desa Tempurejo ketika ditemui Suara Merdeka, menyatakan tidaklah berlebihan jika Jimat menuduh istri dan mertuanya seperti itu. Termasuk tidak mengherankan jika orang yang paling didendam adalah istri dan mertuanya. Sementara, kalau Legimin yang saat ini masih dirawat di RSU Blora, sebenarnya tidak termasuk target. Hanya, kebetulan saat kejadian dia bermaksud menolong korban Parni, yang oleh warga diketahui sebagai teman kumpul kebo mertuanya. ''Dia itu orang jujur, sehingga apa yang dikemukakan kemungkinan besar benar. Tidak mungkin dia buat-buat,'' ungkap beberapa warga Tempurejo. Seorang tetangga dekat yang keberatan disebut namanya menuturkan, ketidakharmonisan rumah tangga tersangka terjadi sekitar satu tahun ini. Pangkal permasalahan, karena istrinya sering dipengaruhi mertua agar mau menjadi wanita nakal. Hanya, sejauh mana kenakalannya, orang yang mengaku cukup dekat dan sering mendapat keluh kesah dari tersangka itu menyatakan tidak atau belum tahu persis. Sering Keluar Dia hanya mengemukakan, akhir-akhir ini korban Mulyati sering keluar rumah tanpa pamitan suaminya. Ini yang dimungkinkan tersangka kalut dan akhirya menjadi pendiam dan tertutup dengan tetangga. Hal ini dimungkinkan karena kondisi seperti itu dianggap memalukan. Perubahan perilaku korban dinilai juga mengherankan. Semula dikenal cukup patuh dengan suami, akhir-akhir ini sering keluar rumah tanpa berpamitan. Masenun, tetangga yang sering menjadi curhat tersangka mengatakan, ada kemungkinan Jimat yang asli Jeruk mempunyai perasaan malu ketika mengetahui mertuanya mempunyai hubungan dengan laki-laki yang juga warga Desa Jeruk. ''Terbukti, sejak ada hubungan tersebut tersangka tidak pernah pulang ke Jeruk. Ya dimungkinkan dia malu dengan tetangga,'' urainya. Diperoleh informasi, sore sebelum kejadian ada hal yang membuat pelaku jengkel. Yakni di saat dia pulang ke rumah dengan membawa rumput, istrinya tidak dijumpai di rumah. Hal ini juga dibenarkan Jimat, menjelang magrib dia memang sangat jengkel dengan istrinya. ''Sejak sore saya sudah jengkel, sehingga neon di ruang tamu sengaja tidak saya hidupkan,'' tuturnya. Kondisi ruangan tamu yang gelap ini memang sempat menjadi perhatian penyidik. Waktu itu muncul pertanyaan, kenapa sewaktu pelaku memukul korban Mulyati, ruangan tamu dalam kondisi gelap. Jangan-jangan sudah ada perencanaan. Namun, tersangka mengaku jika lampu tidak dihidupkan memang sudah disengaja sejak sore. Permasalahannya dia kesal, sewaktu pulang dari sawah istrinya tidak ada di rumah. Sulit memang untuk membuktikan tentang keadaan yang dituturkan tersangka. Hanya, di kampungnya tampaknya semua orang sudah tahu siapa dan bagaimana sebenarnya korban Parni dalam kesehariannya. Dia berstatus mempunyai suami, yakni Salekan yang berusia sudah cukup tua, sekitar 70 tahun. Meski demikian, Parni mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki lain, yakni Legimin. Hal ini, menurut para tetangganya, bukan rahasia lagi. Satu perkataan Jimat yang sampai saat ini masih diingat betul oleh tetangga dekatnya, yakni dia berbuat nekat karena sudah "disakiti" oleh istrinya tiga kali. Hanya, bentuk disakiti ini yang bagaimana akan menjadi misteri. Semua sudah terjadi. Seorang titah Tuhan yang cukup menanggung akibat "raja pati" di Bogorejo itu adalah Agus Pujianto (12). Saat ini dapat dikatakan dia menjadi yatim piatu. Ayahnya masih hidup memang, hanya sampai berapa tahun kelak akan berada di tahanan. Kalau ibunya jelas sudah meninggal. (Abdul Muiz, Urip Daryanto-54s) |